Merawat Daerah Kewanitaan

June 11th, 2007 by astaganagabonar


Perawatan kesehatan dan kebersihan adalah hal yang banyak dibicarakan
dalam masyarakat. Biasanya hal ini diajarkan oleh orangtua kita sejak
kita masih kecil.
Tetapi,
karena orangtua sering kali enggak merasa nyaman membicarakan masalah
seksual, biasanya masalah kesehatan dan kebersihan yang dibicarakan
hanya menyangkut hal yang umum saja, sedangkan urusan kesehatan organ
seksual jarang kita dapatkan dari mereka.

1. Membersihkan daerah kewanitaan
Secara
umum, menjaga kesehatan berawal dari menjaga kebersihan. Hal ini juga
berlaku bagi kesehatan organ-organ seksual, apalagi buat kita-kita ini,
yang tinggal di daerah tropis. Udara yang panas cenderung lembab sering
bikin kita merasa gerah dan keringetan.Keringat ini membuat
tubuh kita lembab, terutama di bagian tubuh yang tertutup dan
lipatan-lipatan, yang akan menyebabkan bakteri mudah berkembang biak,
menimbulkan bau yang enggak sedap dan juga menimbulkan penyakit.
Seperti yang diajarakan oleh nenek moyang kita, mandi dua kali sehari
itu baik untuk kesehatan.

Untuk menjaga kebersihan vagina, yang
perlu kita lakukan adalah secara teratur membasuh bagian di antara
vulva (bibir vagina) secara hati-hati menggunakan air bersih dan sabun
yang lembut (mild) setiap habis buang air kecil, buang air
besar, dan ketika mandi. Kalau kita alergi juga dengan sabun yang
lembut sekalipun, cukup basuh dengan air hangat. Yang penting adalah
membersihkan bekas keringat dan bakteri yang ada disekitar vulva di
luar vagina. Bagian dalam vagina biasanya akan mampu menjaga
kebersihannya sendiri.

Ingat, cara membasuh yang benar adalah
dari arah depan (vagina) ke belakang (anus), jangan terbalik, karena
akan menyebabkan bakteri yang ada di sekitar anus terbawa masuk ke
vagina. Gunakan air bersih, lebih baik lagi air hangat, tetapi jangan
terlalu panas karena bisa menyebabkan kulit yang sensitif di daerah
vagina melepuh dan lecet. Setelah itu, sebelum pakai celana lagi,
keringkan dulu menggunakan handuk atau tisu yang enggak berparfum.

Penggunaan
deodoran, sabun antiseptik yang keras, atau cairan pewangi (parfum)
untuk menghilangkan bau di daerah kewanitaan bukanlah tindakan yang
bijaksana, bahkan malah bisa berbahaya untuk kesehatan.
Kenapa?
Pertama,
pada vagina yang sehat, juga hidup berbagai bakteri dan organisma
termasuk yang merugikan dan bisa menyebabkan vaginitis. Biasanya sih
bakteri ini enggak bikin masalah karena masing-masing jumlahnya enggak
banyak. Terlalu sering membasuh vagina dengan cairan kimia (douching)
dan penggunaan deodoran dan farfum akan merusak kesimbangan yang ada
sehingga akan memungkinkan terjadinya infeksi. Vaginitis adalah
peradangan pada vagina yang terjadi karena perubahan keseimbangan
normal bakteri yang hidup disana. Tanda atau gejala paling umum adalah
munculnya cairan yang berwarna putih keruh keabuan dan berbusa serta
menimbulkan bau kurang sedap, Kalau ngalamin kejadian kayak gini, jangan segan-segan segera hubungi dokter untuk periksa.

Kedua,
penting diketahui bahwa selalu akan ada bau khas yang muncul dari
daerah vagina, karena dinding vagina serta leher rahim memproduksi
cairan. Cairan ini, yang berwarna putih atau kekuningan, adalah sehat
dan normal. Bau, rasa, dan tingkat kekentalan cairan ini bisa
berubah-ubah seiring dengan siklus menstruasi kita.. Cairan ini juga
akan berubah kalau ada sesuatu yang enggak beres.

Nah,
penggunaan produk-produk wewangian selain bisa membuat iritasi dan
alergi, juga akan membuat kita enggak bisa mengetahui bau normal dari
vagina kita (karena tertutup oleh bau wangi yang ditimbul
kan dari
produk yang kita pakai). Padahal mengetahui kondisi normal organ kita
itu penting sekali. Dari situ kita bisa mendeteksi secara dini kalau
ada hal-hal yang enggak wajar dan mencurigakan. Makanya, kalau kita
sudah hafal dengan bau, warna dan wujud cairan yang sehat, kita akan
bisa mengenali perubahan yang terjadi apabila ada ketidakberesan.

Kebersihan
daerah kewanitaan juga bisa dijaga dengan sering mengganti pakaian
dalam, paling enggak sehari dua kali di saat mandi. Apalagi, kalau kamu
cewek yang aktif secara fisik dan mudah berkeringat, Kalau kamu suka,
kamu bisa menggunakan panty liners atau pembalut tipis sekali
pakai untuk melapisi pakaian dalammu dan menjaga vaginamu dari
kelembaban yang berlebihan. Begitu merasa lembab, itu aja yang diganti,
jadi enggak perlu bawa-bawa celana dalam kotor ke mana-mana.

2. Menjaga kesehatan pada masa menstruasi

Pada saat menstruasi rasanya kita bete banget karena ribet.
Tetapi, namanya juga cewek, menstruasi adalah hal yang normal yang
harus kita jalani, karena pada saat itu rahim sedang meluruhkan lapisan
dinding rahim yang berupa darah yang enggak dipakai karena enggak
terjadi pembuahan.

Untuk menampung darah yang keluar itu cewek
menggunakan pembalut wanita. Di pasaran bisa kita temui berbagai macam
pembalut dengan berbagai kelebihan yang ditawarkan. Terserah kita, mau
pilih yang mana yang sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan kantung.
Tetapi, yang penting adalah bahwa pembalut itu harus berbahan yang
lembut, menyerap dengan baik, enggak mengandung bahan yang bikin alergi
(misalnya parfum atau gel) dan merekat dengan baik pada celana dalam.
Pembalut itu perlu diganti sekitar empat sampai lima kali dalam sehari
untuk menghindari pertumbuhan bakteri yang berkembang biak pada
pembalut tersebut, dan menghindari masuknya bakteri tersebut ke dalam
vagina.
Cewek mengalami menstruasi rata-rata selama dua-tujuh hari.
Masing-masing cewek punya pola sendiri-sendiri yang merupakan kondisi
normal baginya. Kalau biasanya dia mens tiga hari, maka mens tujuh hari
adalah enggak normal baginya. Sedangkan untuk mereka yang biasanya mens
selama tujuh hari maka mens empat hari adalah engak normal buat dia.
Kalau kalian mengalami hal ini, lihat ketidanormalan yang lain dan
segera periksakan diri ke dokter.

3. Memilih pakaian dalam

Selain
musti sering ganti secara teratur, kita juga perlu memilih pakaian
dalam yang baik. Pakaian dalam (celana dalam dan BH) yang baik bukan
berarti harus yang mahal dan bermerek. Bikin sendiri juga boleh kalau
kamu bisa. Yang penting adalah bahan yang digunakan sebaiknya yang
terbuat dari bahan alami (katun), sehinga dapat menyerap keringat,
membiarkan kulit bernapas sehingga membuat kita merasa nyaman. Bahan
sintetis seperti nilon akan membuat kita kegerahan dan mebuat vagina
menjadi lembab. Hal ini sangat disukai bakteri dan jamur untuk
berkembang biak.

Ukuran celana dalam juga perlu jadi
pertimbangan. Jangan pilih celana dalam yang terlalu ketat karena
selain gerah juga menyebabkan peredaran darah enggak lancar. Pilih aja
yang ukurannya sesuai, enggak terlalu ketat, tetapi juga enggak
kedodoran. (Malu kan kalau lagi nunggu bus mau berangkat sekolah terus
celana dalamnya melorot? Bisa-bisa kamu ngetop sesaat!).

Untuk
BH, sama saja, pilih yang terbuat dari bahan yang nyaman dan ukurannya
sesuai dengan ukuran payudaramu. Orang yang payudaranya besar sering
kali merasa lebih nyaman menggunakan BH yang ada kawatnya (wire bra),
karena bisa menyangga payudara dengan lebih baik. Tetapi, ada juga yang
enggak suka lapisan busa karena terlalu tebal dan bikin gerah. Semua
terserah kamu, yang penting nyaman. Buat apa pake pakaian yang kelihatannya cantik, tetapi membuat kamu tersiksa? (Guntoro Utamadi, PKBI Pusat)
Sumber : Kompas, Jumat, 21 September 2001


Merawat Organ Kewanitaan

                        

Tinggal di daerah tropis yang panas membuat kita sering berkeringat. Keringat ini membuat tubuh kita lembab, terutama pada organ seksual dan reproduksi yang tertutup dan berlipat.

Akibatnya bakteri mudah berkembang biak dan eksosistem di vagina terganggu sehingga menimbulkan bau tak sedap serta infeksi. Untuk itulah kita perlu menjaga keseimbangan ekosistem vagina.

Ekosistem vagiana adalah lingkaran kehidupan yang ada di vagina. Ekosistem ini dipengaruhi oleh dua faktor utama, yaitu estrogen dan laktobasilus (bakteri baik). Jika keseimbangan ini terganggu, bakteri laktobasilus akan mati dan bakteri pathogen akan tumbuh sehingga tubuh akan rentan terhadap infeksi.

Sebenarnya di dalam vagina terdapat bakteri, 95 persennya adalah bakteri  yang baik sedang sisanya bakteri pathogen. Agar ekosistem seimbang, dibutuhkan tingkat keasaman (pH balance) pada kisaran 3,8 - 4,2. Dengan tingkat keasaman tersebut, laktobasilus akan subur dan bakteri pathogen mati.

Banyak faktor yang menyebabkan ketidakseimbangan ekosistem vagina, antara lain kontrasepsi oral, diabetes melitus, pemakaian antibiotik, darah haid, cairan mani, penyemprotan cairan ke dalam vagina (douching) dan gangguan hormon (pubertas, menopause atau kehamilan).

Dalam keadaan normal vagina mempunyai bau yang khas. Tetapi, bila ada infeksi atau keputihan yang tidak normal dapat menimbulkan bau yang mengganggu, seperti bau yang tidak sedap, menyengat, dan amis yang disebabkan jamur, bakteri atau kuman lainnya. Jika infeksi yang terjadi di vagina ini dibiarkan, bisa masuk sampai ke dalam rahim.

Alaminya susu

Untuk menjaga kebersihan
dan mematikan bakteri jahat di dalam vagina memang tersedia produk pembersih daerah intim wanita. Dari sekian banyak merek yang beredar rata-rata memiliki tiga bahan dasar.
Pertama, yang berasal
dari ekstrak daun sirih (piper betle L) yang sangat efektif sebagai antiseptik,  membasmi jamur Candida Albicans dan mengurangi sekresi cairan pada vagina. Menurut penelitian yang dilakukan oleh Amir Syarif dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, penggunaan daun sirih pada pengobatan keputihan, 90,0 persen pasien dinyatakan sembuh.

Kedua, produk-produk pembersih kewanitaan yang mengandung bahan Povidone lodine.
Bahan ini merupakan anti infeksi untuk terapi jamur dan berbagai
bakteri. Efek samping produk yang mengandung bahan ini adalah
dermatitis kontak sampai reaksi alergi yang berat.
Sebelum
memutuskan memilih suatu produk, menurut Junita ada beberapa hal yang
perlu Anda perhatikan, antara lain apa saja keluhan yang dirasakan saat
ini dan sebisa mungkin memilih produk yang isinya mengandung zat-zat
yang baik.
Sayangnya, jika pembersih
berbahan daun sirih ini digunakan dalam waktu lama, semua bakteri di vagina ikut mati, termasuk bakteri
laktobasilus. Sehingga keseimbangan eksosistem menjadi terganggu.
 
Ketiga, produk yang merupakan kombinasi laktoserum dan asam laktat. Laktoserum ini berasal dari hasil fermentasi susu sapi dan mengandung senyawa laktat, laktose serta nutrisi yang diperlukan untuk ekosistem vagina. Sedangkan asam laktat berfungsi untuk menjaga tingkat pH di vagina.

Menurut dr.Junita Indarti, SpOG, dokter spesialis kebidanan dan penyakit kandungan dari RSCM, susu  mengandung zat aktif yang bisa diekstrak menjadi asam laktat dan laktoserum, dan secara klinis terbukti mengurangi keluhan rasa gatal, rasa terbakar dan keputihan pada vagina.

"Sebanyak 70 persen pasien yang datang berobat, keluhannya hanya seputar keputihan. Setelah pasien dirawat dengan pemberian larutan asam laktat dan laktoserum dua kali sehari selama dua minggu, tingkat kesembuhannya mencapai 80 persen, hanya 5,4 persen yang mengalami efek samping berupa ruam kulit" katanya menjelaskan.

Kombinasi asam laktat dan laktoserum sebagai pembersih organ kewanitaan bersifat alami karena tidak membunuh bakteri laktobasilus melainkan meningkatkan pertumbuhannya. Salah satu produk yang pembersih wanita yang mengandung bahan ini adalah Lactacyd, yang saat ini sudah bisa dibeli di outlet toko obat.

"Untuk pemakaian jangka panjang sebaiknya memilih produk yang bisa memelihara ekosistem alami vagina. Produk yang mengandung pembunuh bakteri sebaiknya hanya digunakan untuk jangka pendek atau ketika ada masalah saja." tambah Junita.

Kebisaan menjaga kebersihan, termasuk kebersihan organ-organ seksual atau reproduksi, merupakan awal dari usaha menjaga kesehatan kita. Jika ekosistem vagina terjaga seimbang, otomatis kita akan merasa lebih bersih dan segar dan tentu saja lebih nyaman melakukan aktivitas sehari-hari. ***
sumber: Kompas Cyber Media

say…. gw telat tiga bulan….. (anjriiiittttt !!!!!!)

May 2nd, 2007 by astaganagabonar

dulu gw pernah panik waktu ceweq gw ngomong begitu… eh ga taunya di bunting ma orang laen …. dasar keparat !!!

————————————————————————–

Pada bulan-bulan pertama kehamilan anda, mungkin tidak akan banyak orang yang mengerti bila anda sedang hamil, karena belum terlihat perubahan yang nyata pada tubuh anda. Tapi sesungguhnya tubuh anda secara aktif bekerja untuk menyesuaikan secara fisik dan emosional bagi proses kehamilan ini.

Beberapa perubahan pada tubuh ibu hamil di trimester pertama ( 0 – 12 minggu) kehamilan :

PEMBESARAN PAYUDARA
Payudara akan membesar dan kencang, ini karena pada awal pembuahan terjadi peningkatan hormone kehamilan yang menimbulkan pelebaran pembuluh darah dan memberi nutrisi pada jaringan payudara. Anda mungkin akan merasa BH atau bra anda terasa sesak dan tak nyaman lagi, sebaiknya anda mempersiapkan bra baru yang sesuai dengan ukuran baru ini untuk memberi kenyamanan dan dapat menyokong payudara anda. Tapi jangan buang yang lama, anda dapat menyimpannya karena payudara akan kembali ke ukuran sebelum anda hamil setelah anda berhenti menyusui nanti.

Dalam 3 bulan pertama ini, anda akan melihat juga daerah sekitar putting dan putting susu anda akan bewarna lebih gelap, dan karena terjadi peningkatan persediaan darah keseluruh tubuh maka daerah sekitar payudara akan tampak bayangan pembuluh-pembuluh vena dibawah kulit payudara anda.

SERING BUANG AIR KECIL
Anda akan merasa lebih sering ingin buang air kecil, ini karena adanya pertumbuhan rahim yang menekan kandung kencing anda dan perubahan hormonal
Ingat jangan mengurangi pemasukan cairan / minum anda untuk mengatasi problem ini karena anda butuh cairan lebih pada saat hamil ini.
Dan tetap jaga kebersihan anda.

KONSTIPASI
Anda mungkin akan merasa kesulitan untuk buang air besar, hal ini karena peningkatan hormone progesterone yang menyebabkan relaksasi otot sehingga usus kurang efisien, juga Tablet Zat Besi (iron) yang diberikan oleh dokter biasanya memyebabkan masalah konstipasi ini selain itu zat besi tablet akan menyebabkan warna feses anda kehitaman, jangan kuatir.
Atasilah dengan banyak minum air, makanan yang berserat tinggi (sayuran dan buahan) serta olahraga.

MORNING SICKNESS—MUAL MUNTAH
Laporan menunjukkan bahwa separuh dari wanita hamil mengalami mual dan mulai pada bulan ke dua. Mual terhadap makanan tertentu, bahkan hanya karena mencium bau makanan tertentu saja. Hal ini karena adanya peningkatan hormonal.
Atasilah dengan makan dalam jumlah sedikit tapi sering, jangan makan dalam jumlah atau porsi besar hanya membuat anda mual.
Anda tak perlu kuatir kalau bayi anda tak cukup nutrisi. Di awal kehamilan ini kebanyakan wanita hamil hanya sedikit saja meningkat berat badannya dan ini tidak mempengaruhi perkembangan bayi anda.
Dan jangan kuatir biasanya keluhan mual-muntah akan menghilang pada akhir trimester pertama.

Hubungi dokter anda bila mual-muntah menjadi sangat hebat, sehingga anda tidak dapat makan atau minum apapun juga dan dapat menimbulkan kekurangan cairan/dehidrasi. (Hiperemesis gravidarum).

MERASA LELAH
Anda akan merasa lelah, hal ini karena tubuh anda bekerja secara aktif untuk menyesuaikan secara fisik dan emosional untuk kehamilan ini. Juga peningkatan hormonal dapat mempengaruhi pola tidur anda. Carilah waktu untuk beristirahat sedapat mungkin.

SAKIT KEPALA
Anda mungkin akan merasa sakit kepala yang lebih sering daripada biasa, hal ini mungkin karena rasa mual, kelelahan, lapar, tekanan darah rendah, dan dapat juga karena perasaan tegang atau bahkan depresi.
Atasilah dengan beristirahat, dan makanan dengan makan sedikit tapi sering biasanya dapat menolong, relaks. Bila sakit kepala semakin terasa berat secepatnya hubungi dokter anda. (pada kehamilan lanjut sakit kepala dapat menjadi tanda pre-eklampsia , yang biasanya disertai dengan peningkatan tekanan darah dan kaki-tangan bengkak)

PUSING
Merasa pusing sering pada awal kehamilan hal ini karena adanya peningkatan tuntutan darah ke tubuh sehingga sewaktu anda berubah posisi dari tidur atau duduk ke posisi berdiri secara tiba-tiba, system sirkulasi darah kesulitan untuk beradaptasi.
Bila rasa pusing tetap timbul ketika anda sedang duduk, ini biasanya karena menurunnya level gula darah anda. Makanlah sedikit- sedikit tapi sering.
Bila anda sering merasa seperti ingin pingsan periksalah ke dokter anda kemungkinan anda anemia.

KRAM PERUT
Pada trimester awal ini, anda mungkin mengalami kram perut atau kram seperti menstruasi atau rasa sakit seperti ditusuk yang timbul sebentar dan tidak menetap. Hal ini sering terjadi dan kemungkinan karena adanya pertumbuhan dan pembesaran dari rahim dimana otot dan ligament merenggang untuk menyokong rahim.

Yang harus diingat apabila kram perut yang timbul disertai perdarahan vagina, hubungi dokter anda segera, karena kedua tanda ini berhubungan dengan keguguran.

MELUDAH
Jangan merasa malu bila anda merasa air ludah anda menjadi agak berlebih, hal ini biasa terjadi pada kehamilan biasanya pada ibu hamil yang mengalami morning sickness. Ini biasanya timbul pada trimester pertama tapi jarang terjadi.
Atasi dengan sikat gigi atau kocok mulut atau isap permen yang mengandung mint.
Mint dipercaya dapat mngurangi air ludah.

EMOSIONAL
Pada trimester awal kehamilan ini juga terjadi mempengaruhi emosional menjadi tak stabil, hal ini karena adanya perubahan hormon dan juga rasa tanggung jawab baru sebagai seorang calon ibu.
Atasi : cobalah untuk mencari waktu untuk diri anda sendiri, bicarakanlah perasaan anda kepada orang terdekat atau dokter anda.
Dan untungnya, Tubuh pada akhirnya secara bertahap dapat beradaptasi terhadap perubahan hormonal ini sehingga membuat hidup lebih indah buat anda.

PENINGKATAN BERAT BADAN
Pada akhir trimester pertama ini anda akan kesulitan untuk memasang kancing rok/celana panjang anda. Hal ini bukan berarti adanya peningkatan berat badan yang banyak—-tapi karena rahim anda berkembang dan memerlukan ruang dan ini semua karena pengaruh dari hormone estrogen yang menyebabkan pembesaran rahim dan hormone progesterone yang menyebabkan tubuh menahan air

Di trimester kedua ini perut anda akan mulai kelihatan membesar dan dunia luar akan menyadari kalau anda akan menjadi calon ibu baru. Trimester kedua dianggap sebagai masa kehamilan yang terbaik sebab anda akan merasa lebih nyaman saat ini. Perut anda belum terlalu besar anda masih dapat melakukan aktifitas sehari-hari, dimana Rasa mual, lemas, dan keluhan lainnya pada trimester pertama akan hilang, bahkan anda merasa lebih energik saat ini.

Beberapa perubahan yang terjadi pada kehamilan trimester kedua (13-28 minggu):

PERUT SEMAKIN MEMBESAR
Setelah 12 minggu, rahim membesar dan melewati rongga panggul. Pembesaran rahim akan bertumbuh sekitar 1 cm setiap minggu. Pada kehamilan 20 minggu bagian teratas rahim sejajar dengan puser (umbilicus). Setiap individu akan berbeda-beda tapi kebanyakan wanita akan mulai tampak pembesaran perutnya pada kehamilan 16 minggu.

SENDAWA DAN BUANG ANGIN
Pada trimester ini anda akan bersendawa atau ingin buang angina/kentut pada saat yang tidak seharusnya—jangan bingung—anda tak sendirian mengalami masalah ini.
Sendawa dan buang angina adalah keluhan yang paling sering selama kehamilan. Hal ini karena usus merengang dan anda akan merasa kembung.
Atasi dengan jangan makan dalam jumlah besar akan membuang anda kembung dan tak nyaman, dan hindari makanan yang menyebabkan banyak gas seperti jagung, permen, bawang merah.


PELUPA
Pada beberapa ibu hamil akan menjadi sedikit pelupa selam kehamilannya,

Ada

beberapa teori tentang hal ini karena tubuh ibu terus bekerja berlebihan untuk perkembangan bayinya sehingga menimbulkan blok pikiran.
Tak perlu terpengaruh dengan hal ini —sediakan catatan kecil unutk membantu anda. Dan beristirahalah sedapat mungkin.

RASA NYERI DI ULU HATI
Rasa panas atau terbakar didada bagian bawah atau perut bagian atas tapi tidak ada hubunganya dengan jantung. Hal ini karena asam lambung naik ke kerongkongan. Perasaan ini timbul pada wanita hamil pada trimester kedua ini, hal ini karena hormone progesterone meningkat yang menyebabkan relaksasi dari otot saluran cerna dan juga karena rahim yang semakin membesar yang mendorong bagian atas perut, sehingga mendorong asam lambung naik ke kerongkongan.

Nilai positif dari relaksasi otot saluaran cerna adalah gerakan makanan menjadi lebih lambat sehingga nutrisi terserap lebih banyak.

Atasi dengan jangan makan dalam jumlah besar terutama sebelum mau tidur. Jauhi makanan yang pedas, berminyak dan berlemak. Waktu tidur malam tinggikan posisi kepala anda sehingga asam lambung tak dapat naik ke esophagus.

PERTUMBUHAN RAMBUT DAN KUKU
Perubahan hormonal menyebabkan kuku akan tumbuh lebih kuat dan tumbuh rambut lebih banyak dan kadang tumbuh ditempat yang tidak diinginkan seperti diwajah atau perut. Tapi tak perlu kuatir rambut yang tak semestinya ini akan hilang setelah bayi lahir

SAKIT DI PERUT BAGIAN BAWAH
Pada kehamilan 18-24 minggu anda akan merasakan nyeri diperut bagian bawah yang seperti ditusuk atau seperti tertarik disatu atau dua sisi, hal ini karena perenggangan ligamentum dan otor unutk menahan rahim yang semakin membesar.
Nyeri hanya sebentar dan tak menetap.
Atasi dengan duduk atau berbaring dengan posisi yang nyaman.

PUSING
Pusing menjadi keluhan yang sering selama kehamilan trimester kedua ini hal ini dapat terjadi ketika pembesaran dari rahim anda menekan pembuluh darah besar sehingga menyebabkan tekanan darah menurun.

Atasi denga melakukan perpindahan posisi pelahan lahan atau bertahap untuk menghindari perubahan tekanan darah yang mendadak.

MENDENGKUR
Peningkatan aliran darah selama kehamilan akan menyebabkan sesak dan pembengkakan membrane mukosa yang menimbulkan mendengkur saat tidur.

HIDUNG DAN GUSI BERDARAH
Hal ini juga karena peningkatan aliran darah selama masa kehamilan. Kadang juga mengalami sumbatan pada hidung hal ini karena perubahan hormonal.

PERUBAHAN KULIT
Garis kecoklatan mulai dari puser (umbilicus) ke tulang pubis disebut linea nigra.
Kecoklatan pada wajah disebut chloasma atau topeng kehamilan, ini dapat menjadi petunjuk kurang asam folat.
Strecth mark terjadi karena perengangan kulit yang berlebih biasanya pada perut dan payudara.
Akibat perengangan kulit ini anda dapat merasa gatal.

PAYUDARA
Payudara akan semakin membesar dan mengeluarkan cairan yang kekuningan yang disebut colostrums. Putting dan sekitarnya akan semakin bewarna gelap dan besar dan bintik-bintik kecil akan timbul disekitar putting, itu adalah kelenjar kulit..

KRAM PADA KAKI
Kram otot ini timbul karena sirkulasi darah yang lebih lambat saat kehamilan. Atasi dengan menaikkan kaki keatas, minum cukup kalsium. Bila anda terkena kram kaki ketika duduk atau saat tidur, coba untuk menggerakan jari-jari kaki kearah atas.

PEMBENGKAKAN SEDIKIT
Pembengkakan adalah kondisi normal pada kehamilan, hampir 40 % wanita hamil mengalaminya.
Hal ini karena peningkatak hormone yang menahan cairan.
Pada trimester kedua ini akan tampak sedikit pembengkakan pada wajah, kaki , tangan.
Hal ini sering karena posisi duduk atau berdiri yang terlalu lama.

MERASAKAN GERAKAN BAYI ANDA
Pada kehamilan minggu ke 15-22 anda akan mulai merasakan gerakan bayi anda yang awalnya akan terasa seperti kibasan, tetapi di akhir trimester ini, anda akan benar-benar merasakan pergerakan bayi anda. Pada ibu yang baru pertama kali sering tidak dapat mengenali gerakan bayinya sampai minggu ke 19-22.

Pada Trimester ke tiga ini perut anda sudah membesar. Anda sudah akan mempersiapkan untuk kehadiran si bayi baru dalam keluarga anda. Mungkin anda akan merasakan berbagai perasaan emosional yang berbeda-beda. Kegembiraan untuk bertemu bayi baru anda. Mungkin anda juga kuatir dengan kesehatan bayi anda. Anda mulai berfikir tentang persalinan. Dengan tambahan perubahan emosi ini, tubuh secara fisik juga mengalami perubahan pada trimester akhir ini.

Beberapa perubahan yang terjadi pada kehamilan trimester ke tiga:

SAKIT PUNGGUNG
Sakit pada punggung, hal ini karena anda meningkatnya beban berat yang anda bawa yaitu bayi dalam kandungan.

Pakailah sepatu tumit rendah; Hindari mengangkat benda yang berat; Berdiri dan berjalan dengan punggung dan bahu yang tegak; Mintalah pertolongan untuk melakukan pekerjaan rumah anda sehingga anda tak perlu membungkuk terlalu sering; Pakailah kasur yang nyaman.

PAYUDARA
Keluarnya cairan dari payudara yaitu colustrum adalah makanan bayi pertama yang kaya akan protein.

KONSTIPASI
Pada trimester ke tiga ini konstipasi juga karena tekanan rahim yang membesar kedaerah usus selain peningkatan hormone progesterone.
Atasi dengan makanan berserat buahan dan sayuran serta minum air yang banyak, serta olahraga.

PERNAFASAN
Pada kehamilan 33-36 banyak ibu hamil akan merasa susah bernafas hal ini karena tekanan bayi yang berada dibawa diafragma menekan paru ibu.
Tapi setelah kepala bayi sudah turun ke rongga panggul ini biasanya pada 2-3 minggu sebelum persalinan pada ibu yang pertama kali hamil maka anda akan merasa lega dan bernafas lebih mudah . Selain itu juga rasa terbakar didada(heart burn) biasanya juga ikut hilang. Karena berkurangnya tekanan bagian tubuh bayi dibawah tulang iga ibu.

SERING KENCING
Pembesaran rahim dan ketika kepala bayi turun ke rongga panggul akan makin menekan kandung kencing anda.

MASALAH TIDUR
Setelah perut anda besar anda dan bayi anda menendang di malam hari anda akan menemukan kesulitan untuk dapat tidur nyenyak. Cobalah untuk menyesuaikan posisi tidur anda .

(Baca juga: Bagaimanakah Posisi Tidur Yang Baik Selama Kehamilan?)

VARISES
Peningkatan volume darah dan alirannya selama kehamilan akan menekan daerah panggul dan vena di kaki, yang menyebabkan vena menonjol.
Dan pada akhir kehamilan kepala bayi juga akan menekan vena daerah panggul.
Varises juga dipengaruhi factor keturunan.

Angkatlah kaki keatas ketika anda istirahat atau tiduran; Pakailah celana atau kaos kaki yang dapat mensupport anda, pakai dipagi hari dan lepaskan ketika anda pergi tidur; Jangan berdiri atau duduk terlalu lama, cobalah untuk berjalan-jalan.

KONTRAKSI PERUT
Braxton-Hicks kontraksi atau kontraksi palsu. Kontraksi berupa rasa sakit yang ringan, tidak teratur, dan hilang bila anda duduk atau istirahat

BENGKAK
Pertumbuhan bayi akan meningkatkan tekanan pada daerah kaki dan pergelangan kaki anda, kadang tangan bengkak juga. Ini disebut edema, disebabkan oleh perubahan hormonal yang menyebabkan retensi cairan.

KRAM KAKI
Ini sering terjadi pada kehamilan trimester ke 2 dan 3, dan biasanya berhubungan dengan perubahan sirkulasi, tekanan pada saraf dikaki atau karena rendahnya kadar kalsium.

CAIRAN VAGINA
Peningkatan cairan vagina selama kehamilan adalah normal. Cairan biasanya jernih, pada awal kehamilan biasanya agak kental dan mendekati persalinan lebih cair.
Yang terpenting adalah tetap menjaga kebersihan anda.
Hubungi dokter anda bila cairan berbau, terasa gatal, sakit.

Wah rasanya begitu banyak keluhan yang terjadi selama kehamilan,—ya—-tetapi kebahagian karena kehamilan anda akan cukup mengimbangi segala ketidaknyamanan ini. Kehamilan berisi pergorbanan yang banyak dari seorang ibu, tapi pada akhir dari semua ini, anda akan menyadari bahwa itu semua bernilai, dan waktu 9 bulan akan berlalu cepat dari yang sadari. Apakah hubungan seksual boleh tetap dilakukan selama kehamilan?

Ya, anda tetap boleh melakukan hubungan seksual dengan pasangan anda selama kehamilan anda

NORMAL

.

Berbahayakah melakukan hubungan seksual selama kehamilan?

Adanya pemikiran yang salah bahwa seks selama kehamilan dapat menimbulkan infeksi atau takut melukai bayi dalam kandungan sewaktu berhubungan seks.

Hubungan Seks ataupun orgasme tidak berbahaya untuk bayi karena adanya lendir dari cervik (mulut rahim) dari ibu yang membantu melawan terhadap kuman / infeksi yang akan masuk ke dalam pintu rahim, dan secara alamiah Tuhan menciptakan suatu perlindungan yang aman pada bayi dalam kandungan, sehingga bayi terlindung. Bayi dalam kandungan berada dalam kantung rahim dan cairan ketuban serta otot rahim dan perut yang kuat yang melindungi bayi selama dalam proses kehamilan.

Tetapi,jika kehamilan anda termasuk kehamilan dengan RESIKO TINGGI , atau dokter mengantisipasi nya kemungkinan komplikasi, atau anda menemukan sesuatu gejala yang tidak biasa setelah atau selama melakukan hubungan seksual seperti rasa nyeri, kontraksi atau keluar darah, sebaiknya hubungi dokter anda sebelum anda melakukan hubungan seksual lagi.

Kebanyakan dokter akan menyarankan anda untuk tidak melakukan hubungan seksual pada kasus-kasus kehamilan tertentu misalnya:

• Ancaman keguguran atau riwayat keguguran.
• Placenta letak rendah (plasenta previa).
• Riwayat kelahiran premature .
• Perdarahan vagina atau keluar cairan yang tak diketahui penyebabnya serta kram.
• Dilatasi /pelebaran servik.
• STD atau penyakit seksual yang menular. Untuk kasus STD anda disarankan unutk tidak melakukan hubungan seksual sampai anda atau pasangan sudah diobati dan bebas dari penyakit itu.

Jika anda masih ragu-ragu untuk melakukan hubungan seksual selama kehamilan ini, jangan pernaj ragu untuk mengkonsultasikan hal ini dengan dokter anda.

© Dr.Suririnah-www.InfoIbu.com

Gejala Cewek LU “berisi”

May 2nd, 2007 by astaganagabonar

Gejala-gejala yang menunjukkan kemungkinan Anda hamil adalah:

  • Payudara mengeras dan putting susu menegang

  • Lesu (terlihat 1-6 minggu setelah pembuahan)

  • Sering buang air kecil (6-8 minggu setelah pembuahan)

  • Mual, ngidam, muntah (pertengahan trimester I kehamilan)

  • Banyak makan (umumnya selama kehamilan)

  • Pemeriksaan laboratorium darah dilakukan paling cepat 6 hingga 7 hari setelah pembuahan.

  • Pemeriksaan urin untuk memastikan kehamilan paling cepat dilakukan 10 hari setelah pembuahan.

Pemeriksaan darah dan urin sama-sama mengukur kadar hormon human chorionic gonadotropin (HCG), yaitu hormon yang hanya ditemukan pada tubuh seorang wanita hamil karena pertumbuhan jaringan plasenta. Plasenta adalah jaringan yang terdapat di dalam rahim, plasenta inilah yang berfungsi membawa nutrisi/zat-zat makanan dari ibu kepada janin dalam kandungannya.

Hal-Hal Yang Harus Dihindakan Selama Hamil
Kebiasaan seorang wanita mempunyai pengaruh yang besar pada kesehatan serta bayi yang dikandungnya. Saat hamil, seorang wanita seharusnya menghindari hal-hal sebagai berikut:

  • Alkohol. Mengkonsumsikan alkohol selama hamil dapat menyebabkan cacat lahir atau masalah lainnya. Mengkonsumsikan alkohol terus menerus selama kehamilan akan menyebabkan sindrom fetal alkohol pada bayi yaitu suatu kelainan yang menetap dan terjadi terus menerus sepanjang hidup.

  • Sigaret/Rokok. Merokok menyebabkan berat badan janin saat lahir rendah, persalinan prematur, keguguran dan komplikasi lainnya. Nikotin menyebabka penyempitan pembuluh darah. Sehingga distribusi oksigen dan zat-zat nutrisi dari ibu ke janin yang dikandungnya tidak cukup.

  • Obat-Obatan. Banyak obat-obatan yang dijual bebas dan obat-obat yang diresepkan dapat membahayakan janin. Dokter akan memberikan informasi pada Anda mengenai obat-obatan yang aman dikonsumsikan selama kehamilan.

  • Narkotik. Obat-obat terlarang seperti kokain dapat menghambat pasokan oksigen dan zat-zat nutrisi. Hal ini dapat menyebabkan cacat lahir atau menimbulkan ketergantungan zat pada bayi yang baru lahir.

  • Kafein. Tanyakan dokter jumlah kafein yang diizinkan selama hamil. Kafein ditemukan pada kopi, teh, cola dan produk-produk lainnya.

  • Kontak dengan kotoran binatang. Beberapa penyakit serius dapat terjadi pada saat hamil, misalnya tercemar dengan kuman toksoplasma saat membersihkan kotak kotoran kucing. Penyakit ini ditularkan oleh mikroba yang menyebabkan masalah pada kelenjar limf dan sistem saraf. Pada wanita hamil, parasit ini dapat menyebabkan cacat lahir dan keguguran.

Di beberapa bagian tertentu kulit akan berwarna semakin gelap seperti di putting payudara dan daerah genital. Juga timbul garis dari pusar ke arah kemaluan, yang akan semakin hitam seiring dengan usia kehamilan. Garis ini ( linea alba )

  • Plasenta merupakan suatu organ yang terbentuk pada dinding sebelah dalam uterus segera setelah terjadi pembuahan. Zat – zat makanan dan oksigen akan didistribusikan dari ibu ke janinnya melalui plasenta serta membawa sisa-sisa metabolisme ke luar dari tubuh janin.

  • Normalnya, plasenta melekat pada dinding atas uterus. Bagaimanapun, kurang dari 1 % kelahiran, plasenta terbentuk pada bagian bawah uterus dan sebagiannya menutupi serviks. Penutupan jalan lahir ( serviks ) disebut sebagai plasenta previa.

Apa itu Morning sickness ? Morning sickness atau rasa mual dan muntah biasanya terjadi pada mas Setiap wanita hamil akan memiliki tingkat derajat mual yang berbeda-beda, ada yang tidak terlalu merasakan apa-apa, tapi ada juga yang merasa mual dan bahkan ada yang merasa sangat mual dan muntah setiap saat sehingga memerlukan pengobatan (hiperemesis gravidarum).

Ingat setiap wanita hamil spesial dengan karakteristik masing-masing, begitu juga anda!

a 3 bulan awal kehamilan (trimester pertama kehamilan).


Beberapa tips untuk membantu anda mengatasi “morning sickness” atau mual-muntah selama awal kehamilan:

• Makan dalam jumlah sedikit tapi sering, jangan makan dalam jumlah atau porsi besar hanya akan membuat anda bertambah mual. Berusahalah makan sewaktu anda dapat makan, dengan porsi kecil tapi sering.

• Makan makanan yang tinggi karbohidrat dan protein yang dapat untuk membantu mengatasi rasa mual anda. Banyak mengkonsumsi buah dan sayuran dan makanan yang tinggi karbohidrat seperti roti, kentang, biscuit, dll

• Di pagi hari sewaktu bangun tidur jangan langsung terburu-buru terbangun, cobalah duduk dahulu dan baru perlahan berdiri bangun. Bila anda merasa sangat mual ketika bangun tidur pagi siapkanlah snak atau biscuit didekat tempat tidur anda, dan anda dapat memakannya dahulu sebelum anda mencoba untuk berdiri.

• Hindari makanan yang berlemak, berminyak dan pedas yang akan memperburuk rasa mual anda.

• Minum yang cukup untuk menghindari dehidrasi akibat muntah. Minumlah air putih, ataupun juice. Hindari minuman yang mengandung kafein dan karbonat.

• Vitamin kehamilan kadang memperburuk rasa mual, tapi anda tetap memerlukan folat untuk kehamilan anda ini. Bila mual muntah sangat hebat, konsultasikan ke dokter anda sehingga dapat diberikan saran terbaik untuk vitamin yang akan anda konsumsi. Dan dokter anda mungkin akan memberikan obat untuk mual bila memang diperlukan.

• Vitamin B 6 efektif untuk mengurangi rasa mual pada ibu hamil.  Sebaiknya Konsultasikan dahulu dengan dokter anda untuk pemakaiannya.

• Pengobatan Tradisional : Biasanya orang menggunakan jahe dalam mengurangi rasa mual pada berbagai pengobatan tradisional. Penelitian di Australia menyatakan bahwa jahe dapat digunakan sebagai obat tradisional untuk mengatasi rasa mual dan aman untuk ibu dan bayi. Pada beberapa wanita hamil ada yang mengkonsumsi jahe segar atau permen jahe untuk menbantu mengatasi rasa mualnya.

• Istirahat dan relax akan sangat membantu anda mengatasi rasa mual muntah. Karena bila anda stress hanya akan memperburuk rasa mual anda. . Ambilan waktu untuk anda! cobalah beristirahat yang cukup dan santai, dengarkan musik, membaca buku bayi atau majalah kesayangan anda dll. Hadapilah kehamilan anda dengan kebahagian, karena ini adalah anugerahNya.:-)

Ingat! Hubungi dokter anda bila mual-muntah menjadi sangat hebat, sehingga anda tidak dapat makan atau minum apapun juga sehingga dapat menimbulkan kekurangan cairan/dehidrasi. (Hiperemesis gravidarum).

Percayalah Morning sickness atau mual muntah pada kehamilan awal ini akan segera berlalu tanpa anda sadari dan ini akan menjadi salah satu pengalaman menarik selama kehamilan anda—bayangkan saja tentang si kecil yang akan segera hadir membawa sejuta kebahagian.:)

Ce Fuk Yu … bo siang !!!

March 25th, 2007 by astaganagabonar

Semarang, 25 February 2006… (pada sebuah kelenteng di gang Lombok…)
saat dia mengatakan " i do " … dan saat itu pula aku berkata " kacruuuuuttt, bo shiang, wei nong fuk yu mang… ai meong ai khu ching …. ai kam prettt, yu nang si al, yu fuk yu… ce fuk yu… xia xia wo feng shui, yu ai khu ching .. bo siang fang ke ni pa rat " ___ maafkan bahasaku, keracunan dia yang keluarganya dari keturunan ke285 Cheng Ho … ah sudahlah. … selama bergaul dan bergumul dengan nya… saya bisa sedikit berbahasa ibunya…. xie xie ….
(buat gank UNDERDOG: jangan komen yg aneh2… gw bukan sifat)

achhhh ….
shuo bu shang wei shen me…. wo bian de hen zhu dong…. re ai shang yi ge ren  shen me dou hui zhi de qu zuo……
wo xiang da sheng shun bu…. dui ni yi yi bu she. lian ge bi ling ju dou cai dao wo xian zai de gan shao.
he bian  de feng  zai chui zhe tou fa  piao dong…. qian zhe  ni de  shou yi zhen mo ming  gan dong, wo xiang dai ni hui wo de wai po jia, yi qi  kan zhe ri luo yi zhi dao wo men dou shui jiao……
wo xiang jiu zhe yang qian zhe ni de shou bu fang kai… ai neng bu neng gou yung yuan dan chun mei you bei ai….
wo, xiang dai ni qi dan che..
wo, xiang he ni kan bang qiu..
xiang zhe yang mei dan you chang zhe ge yi zhi zou. wo xiang jiu zhe yang qian zhe ni de shou be fang ka
ai ke bu ke yi jian jian dan dan mei you shang ni, kao zhe wo de jian pang ni, zai wo xiong kou shui jiao xiang zhe yang de sheng huo wo ai ni, ni ai wo
xiang! Jian! Jian! Dan! dan! Ai…
WO XIANG JIAN DAN AI …

Demystifying Ansel Adam’s Zone System

March 7th, 2007 by astaganagabonar

Here is an article written by full time professional photographer, and owner of Balsman photography,  Kim Balsman.
The purpose of this article is to help us understand Ansel Adam’s famous zone system.

This article was posted here with the consentment of its writer.

Ansel Adams was a genius. He was methodical in his work and
extremely demanding in terms of the quality of his prints. Those who
admire his work or attempt to imitate his methods are often perplexed
or intimidated by the results. It seems that a vast majority of people
believe that Ansel Adams’ techniques, often shrouded in mystery, are
impossible to master. This is simply not so. This article is dedicated
to demystifying the clever, yet relatively simple Zone System so
masterfully devised by Ansel Adams and perfected by other virtuosos of
photography.

To fully understand and appreciate the Zone System, one must first
have at least a basic understanding of photography nomenclature.
Mastery of the Zone System requires significantly more dedication to
the fundamentals of photography and lots of practice. I will assume,
for the purposes of this article, that my readers have a basic command
of the principles of exposure - the interplay of light, shutter speed and aperture.

The f-stops here! The Zone System focuses on two very important
aspects of photography – image exposure and development, which
naturally centers on the f-stop (the size or opening of the aperture as
expressed by a number indicating the amount of light transmitted
through the lens). Unlike the vast colors, tones and brightness found
in nature, the Zone System recognizes the limitations of film and/or
digital image processors and works within these limitations. Sadly, no
single camera,
lens or film available today can absolutely equal nature’s immensity.
However, by utilizing the techniques of the Zone System we can
reproduce, as precisely as possible, images of nature that exemplify
its tonal ranges and varying degrees of brightness with little
discernable difference.

Imagine a ladder. The bottom rung of the ladder represents pure
black (Zone 0). The top rung of the ladder represents pure white (Zone
9). The mid-point of the ladder (Zone 5) represents 18% gray or the
accepted average reflectance of light from a given subject, which is
interpreted by your camera’s integrated light meter as the correct
exposure for both B&W and color images. From the mid-point, Zone 5,
each sequential step or zone represents a change of one f-stop. Zone 4
requires an exposure of one f-stop less than your meter reading (or
Zone 5). Conversely, Zone 6 requires an exposure of one f-stop more
than your meter reading. Therefore, the entire Zone System encompasses
a nine-stop differential, which is more than adequate to address even
the most daunting high contrast scene in nature.

Now, let’s add values to these Zones. These are values Ansel Adams himself associated with the nine Zones.

Zone 9 – known as key white or pure white – pure white paper or snow in bright sunlight.

Zone 8 – gray/white, near white – distinct highlight detail, like a white wall in sunlight or brilliant surfaces in flat light.

Zone 7 – light gray – pale “white” skin, a concrete walkway in sunlight.

Zone 6 – mid-tone gray – average “white” skin or shaded areas in snow on a bright, sunlit day.

Zone 5 – medium gray or 18% gray – darker “white” skin or lighter
“black skin,” light foliage or the dark blue of a clear blue sky.

Zone 4 – medium dark gray – slightly darker “black” skin, dark foliage or shadows in landscapes.

Zone 3 – very dark gray – distinct shadow texture is visible.

Zone 2 – dark gray/black – only subtle textures are visible.

Zone 1 – near black – shadows in faint light or rooms without light.

Zone 0 – key black or pure black – carbon or photo paper black.

Remember your camera is calibrated to read 18% gray as “correct” and
assumes that is the desired amount of light reflectance. Thus, it will
average the light readings of extreme shadows or highlights resulting
in over-exposed or under-exposed images, respectively. The Zone System
eliminates this problem by assigning these familiar “values” to each
zone. The key to success with the Zone System is to carefully
pre-visualize your subject and apply the correct Zone values to the
important exposure areas. Then, you must adjust your exposure settings
accordingly to accurately produce the results you want.

Let’s say you are on vacation and want to take a photo of
snow-covered Pikes Peak. It’s a typical sunny day in Colorado. You take
a meter reading of the snow, which suggests a shutter speed of 1/500
and a corresponding aperture of f/16. If you snap the photo using these
settings, the resulting image will be dull 18% gray. According to the
Zone System, snow in bright sunlight falls under Zone 9, which is four
stops above Zone 5, or 18% gray. Therefore, you must first open up four
stops to f/4 and shoot at 1/500. Now, your photo will clearly show the
brilliance of the white snow under the Colorado sun.

What should you do if you want to photograph an interesting rock
formation with a bright blue sky and fluffy white clouds in the
background? The rock formation is moderately shadowed with lots of
texture. You want to bring out as much detail in the rock formation as
possible. You take a meter reading of the shadowed areas of the rock,
which indicates a shutter speed of 1/60 with an aperture of f/2.8.
Then, you take a reading of the sky, which indicates the same shutter
speed but an aperture of f/16. Keep in mind that in high contrast
scenes, you MUST expose for the shadows if you want to reveal the
shadow details. Sometimes this means sacrificing some of the highlights
in your subject landscape. You decide that the shadowed areas fall
within Zone 2. Therefore, you must stop down three stops and shoot at
1/60 at f/8. Of course, this means that you will lose some of the
highlight detail from the bright sky. Don’t despair. All is not lost.

Recall that the Zone System integrates nine f-stops. Yet, the
latitude or exposure range of most readily available film varies from a
low of three f-stops to a high of seven f-stops. Likewise, photo paper,
in general, has a range of no more than five f-stops. How, then, can
you compensate for the limited latitude of film and photo paper? The
Zone System incorporates both exposure AND development techniques.
Ansel Adams used large format “sheet” film affording him more control
over the development of each individual negative. By varying
development time, plus or minus according to a comparative f-stop
scale, Ansel Adams was able to effectively defy the limited latitude of
his film and photo paper.

Contrary to the photographic rule of exposing for the shadows, you
should develop film for the highlights. Concentrating on the range of
brightness in a given image negative, Ansel Adams established the
following development scale:

Normal development time, plus 100% @ 3 stops

Normal development time, plus 50% @ 4 stops

Normal development time only @ 5 stops

Reduce normal development time by 20% @ 6 stops

Reduce normal development time by 40% @ 7 stops

The Zone System works best with large format “sheet” film since you
can isolate each section of the negative and vary its development time.
While you can apply these techniques to roll film, it would require
identical exposure for each frame, which isn’t very likely or
practical. If you are a digital photographer, like me, or a roll-film
photographer hoping to take advantage of all the aspects of the Zone
System, you can utilize both the burning in and dodging techniques.
Burning in refers to darkening specific areas of your image. Dodging
refers to lightening specific areas of your image. For digital
applications, you can use the tools in Adobe Photoshop. For film, you
can appropriately mark your prints for these advanced development
processes.

By employing both the exposure and development techniques of the
Zone System, you will be able to produce amazing images like those of
the masters. Ansel Adams was, indeed, an innovator. He created a unique
and valuable tool, in fact, a legacy for all photographers. Fine Art
Photography wouldn’t be the same without the Zone System.

I hope this article will help you to realize that the Zone System is
not complicated or mysterious at all. It merely requires a reasonable
investment in time, effort and careful but straightforward calculations
to achieve extraordinary results. If you wonder whether or not the
effort is worth it, simply look at a handful of Ansel Adam’s
photographs.

© Balsman Photography, LLC

PACARKU yang ke-LIMA

January 15th, 2007 by astaganagabonar

aku punya lima orang pacar, tapi kelimanya sering bikin aku pusing. MEREPOTKAN…
ada2 aja tingkah laku mereka. rupa2nya juga unik2… dari yang toketnya masya allah ampe yang bokongnya aduhai… dari yang pintarnya kayak perpus ampe yang dongo kayak keledai…, dari yang liberal, ampe yang fundamentalis konservatif …. dari yang sadis ampe pasifist… dari yang cewek tulen sampe ….COWOQ tulen..
…………………….. somebody please kill my friend ……
>pacarku yang ke satu namanya TINI, matre dan ga suka ciuman…
>pacarku yang ke dua namanya TINA, tukang boong dan suka serong …
>pacarku yang ke tiga namanya TINE, gendut dan suka kentut …
>pacarku yang ke empat namanya TINU, agresif tapi sering lukain bibir …
>pacarku yang ke lima namanya TENI, ceweq pesantren jadi susah disentuh ..

…………………………………………… kill my friend, kill me !!!

ada laba-laba belang menyulam jaring di tembok biru, pecahkan saja gelasnya biar…….

December 25th, 2006 by astaganagabonar

ada apa dengan cinta… sebuah pertanayaan yang jawabannya sangat mudah.. GA ADA APA2 DG CINTA ….

tapi kenapa cinta mecahin gelas.. wah ga tau ya??!!tapi kayaknya si cinta lagi dapet tuh.. dapet masalah maksudnya… ato dah dapet gelas baru. kadang gitu sih orang kalo dapat yang baru, yang sedang dipake ditinggalin.. di kasus si cinta; dihancurkan.padahal tuh gelas kesayangan, belinya pas tanggal 29 February, jam 3 sore pula.. gimana ga spesial coba… eh dah dua tahun dipake malah dipecahin…makanya orang2 pada nanya ada apa dengan cinta?ya ada masalah kalo kayak gitu..bokapnya si cinta ga ngasih kesempatan buat cinta ngejelasin kenapa dia mecahin tuh gelas… langsung disuruh masuk kamar aja….duh cinta ada apa dengan lu… kenapa harus "breakin" sumthin… knapa harus lari ke hutan n belok ke pantai.. knapa harus pecahin gelas kesayangan…???

CINTA: eh goblok kan gw dah bilang ada laba2 belang merakit jaring di tembok biru.. gw kan arachnophobia yawdah gw lempar pake tuh gelas eh pecah deh….

Astaganaga; DASAR GADIS BODOH lu TA…

(koq gw jadinya nulis kaga jelas gini yak…??? gara2 cinta neh anjriiiiittt)

semakin hari semakin GILA, semakin hari semakin Sinting…. a song from Ratu sebuah pelajaran dari poligami

December 23rd, 2006 by astaganagabonar

makin hari makin gila, belum lagi satu masalah habis eh masalah baru muncul lagi. kemarin habis ceck up si Rere, rawat inap 2 hari. kata dokter kondisi tbuhnya dah mulai lemah, harus diinfus. Rere dah keluar sekarang, dah sehat walafiat dah bisa jalan bareng lagi. eh sekarang malah Elisabeth yang bermasalah, kata dokter sih gejala demam dan virus di tubuhnya makin menggila. makin sadis…  dah coba pake ramuan dari pak Norton eh sama aja, malah sekarang si dokter nyaranin pake obat buatan Rusia itu (lupa namanya). aduh kalo kayak gini gimana ga tambah gila… si Rere barusan sembuh dan masih butuh perhatian eh si Elisabeth malah kumat penyakitnya… gimana mau ngerawat dua2nya…  wahhh beneran deh makin hari makin gila…..

semoga kalian berdua lekas sembuh …. I love You both….Rere und Elisabeth

ada yang datang, ada yang pergi. tapi kebanyakan ga pernah singgah lama….

December 21st, 2006 by astaganagabonar

biasanya sih banyak yang datang, habis itu pergi lagi.. dan semuanya ga pernah lama singgah. kalo dah dateng pengen buru2 pergi ga tau ada apa…

tapi pernah sekali eh hampir dua kali kayaknya, ada yang datang lagi. lumayan lama mampirnya, trus pergi lagi. yang terakhir malah natal kemaren, ada yang datang lagi, alasannya sih ada yang ketinggalan, eh ga taunya cuman pengen nyari tempat teduh. singgahnya bentar doang, ga betah lagi trus pergi lagi. ah yang terakhir itu yang parah… biarpun singgah lagi cuma bentar, kesannya dah lama banget… padahal cuman idul fitri sampai natal…. tapi sampai natal sekarang masih sering kebayang … hehheh

tapi ada satu saat yang paling diingat, saat mengantarnya pulang untuk melepas kepergian sang ibu, Adi Sutjipto Airport, di depan teman2nya dan saudaranya… dia memeluku erat dan mencium kening dan pipiku. mirip adegan AADC, semua pengunjung melirik, ada pasangan muda/i yang ngantri check in segera bergandeng tangan, si cewek pingin diperlakukan demikian, ada ibu yang menggendong anaknya yang masih kecil tersenyum dan mengecup kening anaknya, ada front officer yang melirk ceweqnya yang malu2 … how bout me? satu sisi gw merasa bahagia, diperlakukan demikian di depan kerabatnya bahakan di temat umum, di sisi lain gw pengen nangis, karna it would be the last time for us to make a contact….

ada yang datang ada juga yang pergi, tapi keanyakan ga pernah singgah lama ….

……………………… fur mein Karzenlicht, Elsabeth Surya .  I miss you so much!!

HUTANG —– anonym short story

October 20th, 2006 by astaganagabonar

Prolog :

Surabaya 1999 D-Day.

Warung Senang. Hanya menyediakan minuman panas, gorengan murahan, dan indomie tanpa telor. Pemiliknya adalah pasangan suami isteri dari Lamongan. Orang-orang memanggil mereka `Ebes’ dan `Emes’. Pasangan yang selalu tersenyum menghadapi setiap pelanggan, tak perduli mereka bisa bayar uang sekolah tujuh anak mereka atau tidak. Tapi bukan tentang mereka yang menjadi bahan obrolan hangat malam itu. Tapi tentang kedua pemuda yang duduk di sudut bangku panjang, dekat tong sampah, posisi kegemaran mereka. Orang yang baru saja mengunjungi Warung Senang dan melihat mereka sambil lalu, pasti mengira kalau mereka berdua adalah sepasang saudara kembar. Tapi bagi para pelanggan Warung Senang, Ray dan Jay sama sekali tidak ada mirip-miripnya, kecuali rambut gondrong ikal yang selalu mereka bawa kemana-mana. Dan malam itu, mereka punya topik hangat untuk diceritakan pada Ebes dan Memes. "Tapi tahunya gratis," kilah Ray saat Ebes menyuruhnya bercerita. "Saya kopi saja, plus Dji Sam Soe satu," Jay menimpali. Ebes memandang Memes, lalu nyaris berbarengan mereka mengumpat. "Anak-anak bandel! Makan sepuasnya deh, pokoknya cerita." Ah? Sebegitu penasarankah mereka? Tentu saja. Ray dan Jay, dua makhluk gondrong itu, paling pandai bercerita. Kalau mereka sudah bercerita, yang pasti pengunjung Warung Senang akan bertambah, bisa-bisa sampai pagi tetap ramai. Ray mengambil tiga potong tahu, mengambil sikap hendak bercerita. Dua orang abang becak dan satu tukang ojek masuk dan mengambil tempat.

HUTANG

CHAPTER ONE - WHERE IT BEGUN

Dua puluh hari sebelum Deadline.

"Hahahaha," gadis itu tertawa. Pemuda dengan rambut ditarik ke belakang, yang duduk di sebelahnya cepat-cepat berkata, "Ssshh jangan keras-keras. Nanti dikira ada perkosaan di sini." Dewi meruncingkan bibir, "Huu, memangnya siapa mau diperkosa sama kamu." "Loh," kata si gondrong, "memangnya aku bilang kalau aku yang merkosa?" Si gadis tertawa lagi. Pemuda yang baru dikenalnya dua jam lalu itu benar-benar membuat perutnya sakit. Pandangan yang semula buruk –melihat potongan jalanan si pemuda– lenyap sudah. Yang ada kini hanya perasaan suka yang entah dari mana datangnya. "Jadi, Ray, kamu masih kuliah?" Si gondrong, Ray, dengan sikap digagahkan mengangguk. "Tentu saja. Walaupun tampak brutal begini, sebetulnya di dalam seorang pemuda yang baik. Rajin. Alim. Pokoknya nggak ada negatif-negatifnya." "Hiiih, bohong. Dari matamu aja aku bisa tahu kalau kamu tuh pemalas." "Wah, enggak lah," sahut Ray, "kalau dari mataku sih, satu-satunya yang bisa kamu katakan adalah bahwa kamu melihat aku suka kamu."

Wajah si gadis memerah seketika. Pemuda ini terkadang begitu kurang ajar. Namun entah mengapa kekurangajaran itu tidak membuatnya risih atau sebal. Dewi akhirnya berusaha menenangkan jantungnya yang berdegup kencang.
"Jangan begitu," katanya, lebih pada dirinya sendiri.
"Kenapa tidak?" tanya Ray dengan senyum tersungging.
"Iya, cowok seperti kamu pasti sudah sering mengatakan begitu pada cewek-cewek."
"Wah, aku ada tampang playboy?" kata Ray dengan melongo.
"Bukan, tampang tukang becak."
"Kalau begitu tukang becak playboy. Yah, pasti deh kamu nggak mau denganku. Ya sudah kalau begitu, kita berteman saja. Begitu maumu?" Dewi bingung seketika. Tak tahu harus menjawab apa. Pemuda ini sejak tadi selalu sukses membalikkan pertanyaannya dengan pertanyaan serupa yang lebih berkesan menuduh. Sesuatu yang tak bisa dijawabnya tanpa berpikir keras.

"Gimana, ya," akhirnya Dewi berkata, "nanti ada yang marah loh sama kamu." Ray nyengir seketika, kebiasaan yang muncul saat umpan yang dipasangnya disambar ikan-ikan gemuk. Pemuda itu menggelengkan kepala.
"Masa kamu mau marah pada dirimu sendiri?"
Wajah Dewi memerah lagi. Untuk yang kesekian kalinya pertanyaan itu berbalik. Ray tertawa saat melihat gadis itu kebingungan. Katanya, "Kalau tidak menjawab berarti kamu mau dong jadi pacarku." Dewi menatap pemuda itu dengan rasa heran campur takjub. Baru dua jam yang lalu, mereka berkenalan, sekarang pemuda itu sudah menanyakan sesuatu yang nyaris tak sanggup ia menolaknya.

Di tempat yang lain, setengah jam lalu…

"Kamu kok diam?" tanya seorang gadis berpakaian `you can see’, dengan sisa riasan yang masih melekat di kulit wajahnya. Sebetulnya pertanyaan itu ia keluarkan, karena tak tahan dipandangi terlalu lama. Pemuda gondrong berjaket kulit di depannya hanya tersenyum, lalu membuang puntung rokoknya. Tanpa mengatakan apapun, pemuda itu meraih gelas kopi di depannya. Si gadis tambah penasaran dengan sikap si pemuda.

Belum ada dua jam mereka bertemu dan berkenalan. Sebetulnya ia sudah memperhatikan pemuda itu sejak acara dimulai. Pemuda itu berkeliaran ke sana kemari dengan binder map di tangannya. Suaranya keras dan tegas. Dalam sibuknya, senyum tak pernah hilang saat orang-orang menyapanya, seolah ia ingin menunjukkan bahwa kesibukan tidak mempengaruhinya sama sekali.
"Fi, itu siapa sih?" tanya Shinta sebelum giliran mereka tiba.
"Oh, itu Jay. Awas, orangnya dingin."
"Dingin?" tanya Shinta sedikit tak percaya. Pikirnya, orang dengan senyum yang murah itu jelas-jelas bukan tipe orang yang `dingin’.
"Iya, terutama sama cewek-cewek."
"Masa?"
"Iya, dan melihat caranya memandangmu, mungkin ia tertarik padamu."
"Mana?" Shinta menoleh dan melihat pemuda gondrong itu memang sedang menatapnya dari jauh. Pemuda itu lalu menarik senyumnya. Shinta merasa sebuah getaran merasuki dirinya, membuat wajahnya terasa panas. Mata pemuda itu, pikirnya, sesuatu keluar dari sana. Lepas session terakhir Shinta di atas panggung, pemuda itu mendekatinya, menjabat tangannya, lalu kembali dalam kesibukkannya. Rasa ingin tahu, ditambah dengan kelelahan, membuat Shinta mengangguk saat pemuda itu mengajaknya ke Texas setelah acara usai.

Sekarang, ia sedikit gemas melihat pemuda itu hanya diam saja. Duduk manis, memperhatikannya lekat-lekat, seolah ada nasi di wajahnya. Tanpa sadar, Shinta meraba tepian bibirnya. Jelas saja, tak ada apa-apa di situ.
"Kamu tahu," mendadak Jay berkata, membuat si gadis terkejut.
"Apa yang paling menyenangkan di sini?"
"Apa?" tanya Shinta.
"Ya tadi itu, memperhatikan kamu. Tapi sayang, kok kamu jadi risihh." Shinta merasa geli bercampur senang yang aneh. Jelas pemuda itu sedang merayunya. Tapi caranya itu, berbeda dengan cara-cara lelaki kebanyakan. Sekarang ia melihat pemuda itu lagi-lagi memperhatikannya. Ada sebuah senyum di wajah pemuda itu.
"Kenapa memang denganku?" tanya Shinta gemas, "aku aneh ya?"
"Iya," kata Jay nyengir, "mukamu jelek."
"Masa?" Shinta otomatis merogoh tas kecilnya, mencari kaca rias. Untuk perempuan, penampilan adalah segalanya. Kecuali yang sadar dirinya jelek. Jay tertawa. Shinta mengangkat kepalanya dengan heran. Sejak dari tadi, baru kali itu ia mendengar pemuda itu tertawa. Tawanya benar-benar lucu, mirip tawa anak kecil.
"Tapi kalau dilihat-lihat," ucap Jay sambil memiringkan kepala dan menarik ujung-ujung bibirnya, suatu sikap yang menurutnya bisa membuat para gadis berhasrat mencubit pipinya, "kamu lebih bagus jelek begini."
"Eh, kok bisa begitu?" tanya Shinta keheranan.
"Iya," senyum Jay, menarik kepalanya lurus kembali.
"Aku suka orang jelek," lanjutnya. Lagi-lagi Shinta tersipu. Gadis itu menarik keluar tangannya dari dalam tas. Ada kelegaan yang tiba-tiba muncul.

"Kamu itu aneh," senyum Shinta seraya menopang dagunya dengan sebelah tangan di atas meja. Jay nyengir,
"Kenapa aneh?"
"Kata temanku tadi, kamu tuh orangnya dingin sama cewek."
"Menurut kamu bagaimana?"
"Kurasa nggak. Kamu tuh baik, walau sedikit mirip rampok." Jay terkekeh. Tapi wajahnya langsung berubah serius.
"Sebetulnya aku `nih memang dingin."
"Sebetulnya?"
"Kecuali pada calon pacarku."
"Hhh?" Shinta bingung, tak tahu harus berkata apa lagi. Mata pemuda gondrong itu menatapnya. Ia serius, pikir Shinta dalam hati. Oh God! Matanya membuatku tak bisa menolak, jerit Shinta. Jantungnya berdegup kencang.

Warung Senang. Dua puluh dua hari sebelum Deadline…..

Ebes masih terlihat asyik dengan racikan kopi Jawa Timurnya. Aduk sana-sini, tambahkan gula, jahe, dan bumbu lainnya. Emes masih saja menggoreng pisang raja yang seukuran lengan orang dewasa. Lummayan, sekali telan, kalian pasti tak ingin melihat barang yang bernama pisang goreng lagi. Kecuali gratis. Masih sekitar pukul tujuh malam, belum banyak `penduduk’ warung yang hadir. Si Gondrong itu terlihat kesepian. Ia sedang butuh ditemani, oleh siapa saja. Asal bukan Ebes. "Kita `kan sama lelaki…" batin si Gondrong sedih. Matanya melirik kesana kemari, berharap seorang berparas manis berambut sebahu akan lewat dan menyapanya ramah. Dunia memang penuh kejutan.
"Hai, Jay…sendirian aja nih?"
"Iyah, kesepian nih… temenin dong…?" balasnya senang.
"Boleh. Traktir yaa?"
"Okey!" Cuma sedetik, Jay menghitung harga segelas es teh manis dan dua potong pisang goreng di Warung Senang. Cuma seribu perak. Enteng! Jay menggeser pantat, menyilakan makhluk manis itu duduk. Ia menatap si Manis yang tersenyum nakal, menggoda. Matanya yang butek, bibirnya yang kehitaman. Hitam? Lalu dengan satu gerakan tangkas, sebatang Marlboro sudah terjepit di ujung mulutnya. Jay terkesiap. Marlboro?! Ia mengusap kedua matanya yang tak gatal. Seringai dari makhluk itu muncul.
"Tidaaakkkk!!!" Jay menjerit histeris. Ebes dan Emes ikut terhenyak. Kaget.
"Elo kenapa, Jay?" Makhluk itu keheranan.
"Euhh, ga pa-pa, Ray. Lagi ERROR." Si Makhluk memang Ray. Dan sama sekali nggak ada manis-manisnya! Pipi Jay bersemu merah. Ia memalingkan wajah cepay-cepat. Rupanya, ia terlena dalam lamunan. Ray tersenyum manja. "Inget siapa, Bro?" godanya pada sahabatnya yang kini menatap hamparan pisang goreng dengan mimik serius.
"Inget sama pisang nih. Enak kayanya," tukas Jay mengalihkan topik sambil mencomot dua buah pisang sekaligus. Malu, Cing!

"Gimana kabar ikan-ikan di empang?"
"Baek. Udah kelaparan kayanya."
"Udah satu hari, lho," sahut Ray antusias.
"Yup. Elo gimana? Ada kemajuan?"
"Heheheh….." Ray terkekeh senang. Dicomotnya sepotong tahu isi dari meja. Terlambat Emes mengingatkan Ray, kalau tahu itu baru saja keluar dari penggorengan. Uap langsung mengepul dari sela-sela gigi pemuda itu.
"Wadaaooow….!" Ray sigap meraih segelas es teh manis, dan mendorong tahu itu cepat-cepat ke ususnya. Glekkk! Emes dan Ebes saling memandang bahagia. Semula mereka berpikir, Ray akan memuntahkannya ke jalanan depan warung. Di situ, ada aturan, bahwa semua yang ditelan harus dibayar. Kalau dimuntahkan? Itu artinya gratis. Dan laba berkurang dua ratus perak. Bisa-bisa, si Otong, anak bungsu mereka, gigit jari seharian besok di sekolahnya. Tidak dapat uang jajan.
"Si Dewi, elo udah tahu alamatnya, Ray?"
"He-eh. Asrama Putri di ujung sana." Tunjuk Ray ke belakang warung.
"Hah? Masa sih?"
"Iyah. Bareng sama si Shinta `kan?" Ray melirik penuh arti.
"Heheheh….."
"Hahahahaha…!" Mereka bertukar pandang. Lalu memngangguk berbarengan. Ternyata, mereka memancing di empang yang sama. Dua ikan, satu empang. Dua orang pemancing. Il Perfecto!

"Si Shinta, idola di Kampus Merah, naek Starlet biru, dan pinter ngerayu laki-laki….," Jay bercerita penuh semangat sambil sesekali mengepulkan asap kreteknya. Ray tekun mendengarkan, sementara kedua tangannya tetap sibuk menjejalkan tahu yang agak dingin dan cabe rawit kegemarannya di antara gerahamnya yang bolong-bolong. Tak dipedulikannya Emes yang sejak tadi sigap menghitung dan menambahkan angka-angka di rekeningnya. "Dua puluh ribu lima ratus lima puluh…." Emes menggeleng-gelengkan kepala, lalu melirik Ray yang masih sibuk `menggiling’, dengan alis berkerut. Didengarnya, Ebes berbisik lirih di samping kepalanya, " Sudahlah, nanti juga dibayar.." Emes menghela napas, lalu kembali sibuk dengan penggorengan di belakang warung. Pisangnya belum mateng, Mes!
"….gue suka rambut panjangnya, ama tungkainya yang jenjang…."
"..mmmm, seksi abiiss.." Jay berdesis. Kepedasan. Cabe Emes, dilawan!
"Emang, itu aja yang menarik dari dia?" Ray kini menyalakan sebatang Marlboro. Memang, untuk perokok seperti mereka, sigaret adalah sahabat untuk makanan pedas. Kalian juga begitu `kan?
"Jelas nggak," Jay meringis bandel, "gue tertarik soal idola kampus itu."
"Heh? Serius? Idola??" Ray tertegun. Ia mengerutkan kening, heran.
"Yup. Si Dewi `kan juga idola kampus Hijau. Heheheh…" Jay terkekeh senang.
"Hah? Elo juga tahu itu?" Ray tertegun lagi, "elo bener-bener….!"
"Heheheh…, gue `kan udah persiapan!" Jay mengedipkan sebelah mata. Ray menegakkan tubuh, mencoba bersikap serius.
"Oke, Jay. Let’s start the game!"
Jay mengangguk. Negosiasi pun berlangsung.
"Dua puluh satu hari."
"Okey."
"You don’t know me."
"Beres."
"Di luar asrama. Take out."
"Take out!" Dua orang pemancing lalu bersalaman dan menunduk dalam-dalam. Mereka lalu bersenandung pelan, sambil mengangguk-anggukkan kepala khidmat. Ritual telah dimulai.
"At first I was afraid, I was petrified…."
"…I have all my life to live, all my love to give…"
"…I will survive…."
(itu bukan nyanyian, itu mantera…)

Ada dua macam metode `primitif’ untuk berburu ikan! satu, dengan menggunakan tombak, menusuk dengan tepat kedua, dengan menggunakan pancing dan umpan yang tepat

CHAPTER TWO - HUNTING DAYS

Dewi’s story…
enam belas hari sebelum Deadline..!!
saatnya romantisme picisan!

Ini kali kelima pemuda gondrong itu menjemputnya di kampus. Dewi tidak pernah merasakan kebahagiaan serupa selama hidupnya. Bagaimana tidak? Saat ia menelusuri lorong kampus, dari jauh ia sudah melihat Ray menunggu. Seperti layaknya kebanggaan seorang gadis pada kekasihnya, Dewi pun demikian. Hatinya berbunga saat ia menyaksikan pandangan keirian yang dilontarkan gadis-gadis lain saat Ray menggandeng lengannya. Pemuda itu milikku, pikirnya dalam hati, pemuda yang tinggi, berwajah sangar, tapi anggun mempesona. Khas gentleman a la barat.

Sore itu Ray tampak rapi dengan setelan kemeja biru tua kotak-kotak, dan celana teropong hitam kesayangannya. Dalam hatinya berjuta rencana sedang tersusun. Pagi tadi, ia sudah meminta Dewi untuk berdandan secantik mungkin. Kalau perlu, bawa sabun cuci muka, biar nanti siangnya Dewi tetap segar. Hari itu Ray sudah bertekad, sesegera mungkin harus selesai-sebelum Jay. Tanpa malu-malu, pemuda gondrong itu menggandeng si gadis melintasi kerumunan mahasiswa. Seperti biasa, sikapnya tak acuh. Beberapa gadis sempat meliriknya mesra beberapa saat sebelum kedatangan Dewi. Namun mereka urusan nanti, pikir Ray, sekarang ia ada misi yang lebih penting. Beat the fisherman contest! Dewi menurut saja saat Ray menawarkan untuk membawakan tasnya. Mereka lalu berjalan sampai ke lapangan parkir. Tak berapa kemudian, mereka sudah meluncur di tengah sibuknya lalu lintas.

"Kamu cakep," kata Ray sambil tersenyum, memulai perbincangan.
"Makasih," sahut Dewi dengan wajah memerah, "kamu juga."
"Aku memang selalu cakep, kok."
"Pede sekali," ucap si gadis sebelum tertawa.
"Aku mau mengajakmu ke suatu tempat."
Dewi menatap pemuda itu dengan rasa ingin tahu.
"Ke mana?" ia bertanya. Ray hanya tersenyum, melirik sekilas.
"Ke sebuah tempat yang istimewa."
"Istimewa?"
"Ya," sahut Ray, lalu pemuda itu menoleh dan tersenyum. Katanya, "Aku punya dua pilihan untukmu. Yang pertama, kita akan makan di salah satu restoran kegemaranku. Resikonya, nanti aku akan mencium bibirmu di sana." Dewi menatap pemuda itu dengan heran, sebelum tertawa geli. "Yang kedua?" tanya gadis itu setelah tawanya reda. Ray hanya tersenyum, membiarkan kesan dramatis mengalir sejenak sebelum melanjutkan, "Yang kedua, kita ke rumahku. Aku akan siapkan sebuah meja, dengan lilin, lalu hidangan yang sudah kusiapkan sejak pagi tadi. Resikonya? Aku akan mengecup bibirmu, lalu membawamu ke langit untuk bercinta." Kali ini Dewi benar-benar merasa geli. Ia tertawa terbahak-bahak. Pemuda yang satu ini benar-benar ceplas-ceplos kalau sedang berkata-kata. Betul-betul tanpa tedeng aling-aling-kata orang Jawa. Tapi sesuatu dari pemuda itu, mungkin senyum dan caranya melirik, membuat Dewi tidak bisa marah sama sekali. Malah si gadis merasa debaran yang aneh di dalam dadanya.

"Jadi bagaimana?" tanya Ray kemudian, membuat Dewi sedikit terkejut. Gadis itu menatap ke luar jendela. Pikirannya menimbang-nimbang sejenak. Pikirnya, aku baru saja mengenal pemuda ini, dan sekarang ia sudah memberikan dua pilihan yang mendebarkan. Ia akan menciumku, sesuatu yang bahkan dikatakannya dengan gamblang. Tengah Dewi kebingungan, ia merasa jemari kiri Ray menggenggam pergelangan tangan kanannya. Ia menoleh dan melihat pemuda itu tersenyum menatapnya. "Aku tahu," senyum Ray, "kita ke resto saja." Dewi mengangguk. Entah mengapa, sebagian kecil dari hatinya memprotes.

Tempat yang sempurna, momen yang tepat, adalah senjata rahasia kedua Ray. Acara makan siang berlalu dengan romantis. Dewi sempat terheran-heran melihat Ray begitu serius saat di rumah makan. Jarang pemuda itu melontarkan banyolan-banyolan segarnya. Tapi dari situ Dewi melihat sesuatu. Ray adalah sosok seorang pemuda yang bisa menempatkan dirinya di mana ia berada. Ia semakin terpesona. Sekejap lalu, sebelum mereka melangkah memasuki rumah makan, Ray masih penuh canda. Tapi setelahnya, ia tampak begitu dewasa. Mereka berbincang tentang segala hal di sana. Segala sesuatu yang serius, bukan sekedar obrolan omong kosong. Di sana, Ray menanyakan tentang segala kegiatan Dewi, tentang keluarganya, dan tentang penggalan kisah hidup si gadis.

Sore sudah berlalu, saat mereka berdua melangkah keluar dari rumah makan. Ray menggandeng jemari Dewi dengan erat, membuat si gadis merasa hangat mengalir ke seluruh tubuhnya. Sampai di dalam mobil, Dewi berdebar-debar. Tadi pemuda itu mengatakan hendak mengecupnya. Apakah ia akan melaksanakannya? tanya gadis itu dalam hati.

Ray masuk ke dalam mobil, dan mendapati gadis itu sedang tersenyum memandangnya. Pemuda itu melepaskan rambut yang diikatnya ke belakang beberapa jam lalu. Mengibas-ngibas dengan jemarinya sejenak, sebelum akhirnya menarik senyumnya keluar. Dewi tertawa melihatnya. Ia sadar, bahwa kekocakan itu sudah kembali ke posisinya. Ternyata belum. Tengah ia tertawa, mendadak pemuda itu memajukan tubuhnya. Tidak menempel, hanya mendekatkan wajah, hingga Dewi bisa mencium aroma tembakau dari nafasnya. Ray tersenyum, menatap mata gadis itu dalam-dalam. Pemuda itu tahu, bahwa gadis di hadapannya sedang menunggu. Menunggu dalam kepasrahan. "Kamu akan marah kalau aku menciummu?" pemuda itu bertanya. Dewi sedikit sebal. Pemuda itu lagi-lagi menanyakan sesuatu yang tak bisa dijawab. Bagi seorang gadis, pengakuan atas suatu keinginan adalah suatu hal yang sangat-sangat berat. Dan sekarang, pemuda di depannya menuntut itu. Akhirnya Dewi memilih untuk diam, sebelum malu membakar wajahnya sendiri. Pemuda di depannya tertawa. Hening kemudian.

Suasana mulai gelap saat pemuda itu menunduk dan mengecup bibirnya. Dewi memejamkan mata, menikmati sensasi yang timbul dari kelembutan itu. Ray menempelkan bibirnya di bibir si gadis. Tak bergerak. Tak melumat. Hanya menempelkan. Getaran-getaran kecil merambati pori-pori kulit si gadis, tubuhnya bergetar semenit kemudian. Si pemuda lalu menarik sedikit wajahnya. Masih dengan ujung bibir menempel, pemuda itu berbisik,
"Aku sayang kamu."
Dewi membuka matanya, menatap dengan satu arti.
"Aku juga sayang."
Gadis itu merasakan tubuh si pemuda bergerak, kembali ke posisinya di belakang kemudi mobil. Dewi kecewa, ia ingin dikecup lebih lama. Ia ingin rasa itu, getaran itu, menghanyutkannya kembali. Tapi pemuda itu malah memasukkan perseneling, menekan pedal gas. Mobil meluncur dalam kesunyian.

"Aku senang, kita ke resto tadi," Ray berkata memecah hening. Si gadis menatapnya dengan senyum, "Aku juga."
"Bukan itu," kata Ray, "kalau aku membawamu ke rumah tadi. Mungkin aku akan membuatmu benci padaku seumur hidupmu." Dewi tak mengerti. Lalu kata `bercinta’ yang sempat terlontar dari bibir si pemuda melintas. Dewi menundukkan kepalanya. Sesuatu dalam dirinya berbisik, bahwa ia takkan pernah membenci pemuda itu, seandainya hal itu memang akan terjadi.
"Mengapa?" bisikan itu keluar dari bibirnya.
"Siapa tahu nanti aku berniat memperkosamu," Ray berkata.
Dewi mengangkat kepalanya dengan raut heran, lalu melihat cengiran di wajah Ray. Gadis itu tertawa geli. Ada-ada saja, pikirnya. Tiba-tiba Ray menepikan mobil dan menginjak pedal rem.
"Ada apa, Ray?" tanya Dewi heran. Ray menetralkan perseneling, lalu menarik tubuhnya ke samping. Sebuah kecupan mendarat di bibir si gadis. Kecupan yang ringan. Sebelum Dewi membuka matanya kembali, ia mendengar Ray berkata.
"Pertama, itu…."
Ketika ia membuka mata, pemuda itu terlihat sibuk melepas sepatu kulitnya.
"Lalu kedua, ini…sial benar..," Ray berkata, seraya menggaruk telapak kakinya dengan gaya gemas. Dewi memandang terheran-heran.

"Sori, jempolku lagi birahi," gumam si pemuda tanpa menoleh. Gadis itu tertawa terbahak-bahak. Jauh di dalam hatinya ia merasa hangat. Tergoda.

A Fish called Shinta. Hari ketujuh belas sebelum Deadline.

Pemuda gondrong berjaket kulit itu melangkah cepat. Bibir hitamnya berkemik-kemik, menyedot sigaret kretek yang terselip di ujung bibirnya. Langkahnya terhenti di ujung sebuah anak tangga. Menatap arloji di pergelangan tangannya seraya tersenyum-senyum. Lima menit lagi, batinnya senang. Dengan satu gerakan cepat, ia membuka ritsleting jaket kulitnya dan meraih sesuatu dari dalam saku. Lalu menggigitnya di sela-sela gigi. Sebatang mawar merah darah. Tepat lima menit kemudian, bel usai kuliah berbunyi nyaring, disusul derap riuh langkah kaki di ujung lain tangga. Ia tetap berdiri tegak, seolah tak peduli dengan berpasang mata yang berlalu di sekitarnya dengan tatapan heran. Yang lain cuma ngontrak! Dan gadis yang ditunggunya, telah berdiri di hadapannya dalam jarak sepuluh anak tangga, dengan mata terbelalak kaget. Ragu-ragu, si Gadis melangkah perlahan. Si Pemuda gondrong hanya bisa meringis, seraya mengedipkan sebelah mata.
"Jay? Kamu, eh,… ka-kamu ngapain?" Sedikit terbata gadis itu.
Pemuda itu, Jay, melepaskan gigitannya, lalu menyodorkan mawar merah darahnya.
"Buat kamu, dari aku." Gadis itu, sedikit gemetar, mengulurkan tangan menerima. Dan bunga itu pun berpindah tangan. Sontak, bergemuruh tepuk tangan dan celotehan usil. Teman-teman si Gadis ternyata telah bergerombol menonton `adegan dramatis’ itu sejak tadi. Si Gadis tak kuasa menahan gelombang perasaannya yang bergantian muncul. Malu, jengah, senang, dan juga tersanjung. Seumur hidup, belum pernah ada laki-laki yang memperlakukannya sedemikian rupa. Ia hanya tertunduk, dengan wajah memerah bagai kepiting rebus. Tinggal disantap! Pemuda itu meringis riang, ia terlihat begitu tenang dan tak peduli pada situasi di sekitar mereka yang masih riuh-rendah oleh suara-suara nakal warga Kampus Merah. Dasar sirik!

"Heiii, Shinta……?" Gadis itu mengangkat wajahnya yang masih kemerahan.
"Hmm?" Hanya itu yang bisa keluar dari bibir indahnya.
"Cabut yuk!" Berkata begitu, Jay langsung menggenggam jemari si Gadis dan menariknya lembut. Gadis yang dipanggil Shinta hanya menurut saja. Ia merasa seluruh tubuhnya seolah tak bertulang. Jemarinya yang digenggam si Pemuda dialiri keringat dingin. Mereka berlalu, dengan iringan tepuk tangan para pemirsa tercinta. Kali ini lebih kencang dari yang pertama.

"Jahat! Kamu jahat, Jay!!" Shinta memukul-mukul punggung Jay dengan gemas, ketika mereka berdua sudah duduk berboncengan di atas motor besar pemuda itu. Jay tersenyum-senyum kecil. Ia masih menikmati desiran angin di sela-sela rambut gondrongnya. Tanpa menoleh, ia berteriak lantang, "Aku suka kamuu, Shintaaa!" Sontak, Shinta membelalakkan matanya, lalu melirik ke kiri-kanan. Mereka masih berada di lingkungan kampusnya, dan beberapa mahasiswa yang sedang berjalan di dekat mereka terlihat tersenyum-senyum geli. Tanpa disadarinya, Shinta ikut tersenyum. Wajahnya merunduk di samping telinga Jay, "Kamu bandel!" bisiknya lirih, sambil menyelusupkan jari ke balik jaket pemuda itu, lalu menghadiahkan cubitan kecil.
"Wadaaaoow!" jerit Jay, dan tiba-tiba menarik handel rem. Shinta yang tak menyangka aksi itu, spontan memeluk tubuh si Pemuda dari belakang. Hanya beberapa detik, Shinta langsung melepaskan dekapannya. Wajahnya terlihat merajuk, dan memerah kembali. Ia tak ingin disangka mengambil kesempatan.
"Apaan sih, Jay?!" jerit gadis itu seolah-olah sedang marah. Khas perempuan, selalu `jaga image’.
"Lhah, kamu, pake nyubit segala!" Jay mengusap-usap pinggangnya. Lumayan merah juga. Anak ini bener-bener mirip kepiting, batin Jay.
"Abis, kamu bandel banget sih…" Shinta memperhatikan lagi ke sekeliling. Mereka sudah berada dekat lapangan basket di belakang kampus. Syukurlah, tak ada orang di sini, batin Shinta lega. Cukup dua kali saja ia jadi tontonan hari ini.
"Kalo pengen meluk, bilang aja deh, aku ikhlas kok," goda Jay lagi.
"Yeey, enak aja!" Shinta membuang muka.
"Emang enak!" timpal Jay cepat.
Shinta sudah tak berani bicara.
"Shin…." Jay berbisik lembut. Ia membalikkan punggung, menatap wajah gadis itu dari dekat. Shinta melengos, membuang muka ke samping. Dadanya sudah berdebar tak karuan. Napasnya memburu cepat, seirama dengan dadanya yang naik-turun.
"Aku pengen dipeluk lagi." Ucap Jay sambil berbalik ke depan, seraya menarik gas. Shinta tak bergeming.
"Masih malu-malu, dia," batin Jay geli. Kuda besi dengan dua penunggang berbeda jenis itu kembali menderu.

"Memangnya, kenapa kamu ngelakuin itu semua tadi, Jay?" ucap Shinta, ketika mereka sudah keluar dari areal kampus. Belum lima menit, dan gadis itu sudah tak tahan untuk berdiam diri. Jay tersenyum simpul, "Aku udah bilang, `kan?"
"Apa? Kamu suka aku??" tukas gadis itu cepat-cepat. Ada nada tak percaya di sana. Juga keceriaan. Dan Jay bukannya tak tahu.
"Iya."
"Trus?" Shanti masih mengejar. Seketika ia sadar sudah bertindak agresif. Sesuatu yang belum pernah dilakukannya selama ini. Sesuatu yang justru selalu dilakukan oleh pemuda-pemuda lainnya. Ia mulai terheran-heran pada dirinya sendiri.
"Ya udah. Itu aja…." Sahut Jay kalem. "….dulu." lanjutnya sambil terkekeh dalam hati. Gadis di belakangnya seketika tersenyum kecut. "Itu aja…?" batinnya kecewa.
"Tapi, aku minta tolong nih…" ucap Jay kemudian.
"Hmmm…?"
"Pinggangku masih sakit abis kena cubit, nih."
"Pegangin dong….." lanjut Jay lagi. Shinta tersenyum manis sekali. Sayang Jay tak bisa melihatnya. Tangan Shinta terulur ke depan, mengusap pinggang Jay yang dicubitnya tadi. "Eh, yang satunya juga sakit, tuh. Nular kayanya!" seru Jay. Shinta nyaris tergelak. Ia mengerti maksud pemuda itu. Membungkukkan punggung, diraihnya pinggang si Pemuda dengan kedua lengannya. "Begini?" Ia memegang pinggang Jay dengan lembut. "Belum. Gini nih." Jay menarik handel rem dengan cepat, membuat tubuh Shinta terdorong ke depan dan menempel dengan punggungnya. Lalu menarik gas kembali. Gadis itu sudah memeluk tubuh Jay dengan erat. Hangat. "Terima kasih…" bisik Jay sambil berpaling ke wajah gadis itu yang kini begitu dekat dengan wajahnya. Kelopak mata gadis itu sudah terpejam, dan Jay dapat merasakan hembusan nafas si Gadis di pipinya. Cut!! Seketika Jay menyadari bahwa ia sedang melaju di jalanan. Terburu, ia membalikkan kepala ke depan, persis ketika seekor kucing sedang melintas di depannya. Sigap, ia membanting setir, bermanuver ala pembalap Grand Prix. "Batal mati, kamu, Pus!!" umpatnya dalam hati. Shinta yang kaget dengan manuver itu, spontan membuka mata. "Kenapa, Jay?" tanyanya heran. "Nggak pa-pa…" jawabnya gusar, "hampir bikin sate kucing, kita." Dasar, kucing nggak tau orang seneng…..!

Jay menghentikan motornya di depan pagar Asrama Putri. Langit sudah terlihat gelap. Mereka berdua memang sejak sore tadi, berkeliling kota tak tentu arah. Shinta melangkah turun. Ia sebenarnya belum ingin berpisah dengan pemuda ini. "Jay, nggak mampir dulu?" ucapnya berharap. "Wah, aku kudu cepet balik, Shin. Ada kerjaan buat besok." Shinta mengangguk kecewa. Senyumnya terlihat dipaksakan. "Oke deh. Makasih ya, udah dianterin." Bola mata indahnya sedikit meredup. Jay meringis lucu. "Hahaha! Aku yang makasih! Boleh ngebawa kamu kemana-mana! See you, Shin!" Jay menstarter motornya, dan berlalu pergi. Shinta masih berdiri memandangi punggung pemuda itu, sampai menghilang di ujung jalan. Lalu melangkah gontai ke dalam asrama. "Masih ada esok hari, Shin!" hibur hatinya.

Dengan tombak, mangsa menggelepar sekejap, lalu mati Dengan pancing, mangsa menggelepar lebih lama, lalu mati

Target locked…missile approaching..zzzzccchhh…!! Tiga belas hari menjelang Deadline…

Terus terang saja, Dewi sedikit minder siang itu, ketika Ray membawanya jalan-jalan ke mall. Bagaimana tidak, seharian tadi Dewi sudah sebegitu sibuknya, hingga lupa memperhatikan kodisi diri. Sementara Ray, pemuda yang memeluknya dari belakang di eskalator itu, terlihat cerah. Beberapa langkah di lantai empat, Dewi mendekat dan berbisik. "Ray, kamu ngga apa-apa? Aku kusut, loh." Pemuda di sebelahnya menoleh tanpa menghentikan langkah.
"Kamu ini," kata si pemuda, "sudah berapa kali nanya begitu? Aku kan sudah bilang, aku tak perduli. Mau kamu baru bangun tidur, kek, pakai piyama, kek, pakai kebayanya Mpok Echa, kek. Aku tak perduli. Sudahlah, cuek saja."
"Eh, siapa itu Mpok Echa?"
"Tukang pecel kumel di sudut gang."
"Hih, sialan.," tawa Dewi gemas.
"Namanya gaul. Echa."
"Nama aselinya Surtinah."
"Nah loh? Ngga ada miripnya."
"Makanya itu. Aku tadi nyomot dari mana, ya?" Dewi tergelak. Pemuda itu lalu meletakkan lengannya di pundak si gadis, menariknya ke dalam pelukan yang erat dan hangat. Beberapa orang tersenyum menyaksikan mereka. Pengantin baru nih ye, salah seorang berbisik agak keras pada yang lain. Kebahagiaan Dewi, sampai ke tulang sumsum.

"Aku jadi mikir nih, De," mendadak Ray menyeletuk.
"Apa?" tanya si gadis.
"Bagaimana kalau kamu telanjang jalan-jalan di mall."
"Hiih!" Dewi mencibir, jemarinya terulur. Mencubit mesra.

Siang sampai sore mereka habiskan di dalam bioskop. Ray-sengaja-mematikan handphone di sakunya. Tak ingin ada yang mengganggu, bahkan orang media sekalipun. Semua berjalan begitu indah, begitu mulus, sebuah kesempurnaan. Selama di bioskop, dalam kegelapan, dua kali Ray mengecup bibir si gadis, dan sampai film yang diputar hampir selesai mereka berpegangan tangan. Mirip anak SMA. Orang-orang di luar memandang mereka berdua saat keluar dari pintu bioskop. Rambut keduanya benar-benar mirip sekarang. Mirip genderuwo, gombal di sana sini. Cengiran terlihat di wajah mereka. Tadi, sebelum film berakhir, beberapa penonton sempat menggerutu, mendengar mereka tertawa-tawa sendiri. Waktu itu, Ray, yang sebal ketika Dewi menanyakan hal yang sama untuk ketiga kalinya, mengacak-acak rambut gadis itu dengan gemas. Buntutnya, mereka saling mengacak-acak rambut satu dengan lainnya.

"Tuh, kan, lihat nih. Aku jadi kucel abis," gerutu Dewi, seraya meraba-raba rambutnya. Di sampingnya, Ray seolah tak perduli, malah asik menggoyang-goyangkan kepala a la Van Halen, hingga rambutnya jatuh semua ke depan. Beberapa tatapan mata kagum melayang melihat rambut ikalnya.
"Terus? Kamu mau ngapain lagi? Mandi di sini? celoteh Ray kemudian. Dewi meninju lengan si pemuda, "Kalau ada sabun, kenapa tidak?" Ray tertawa. Katanya, "Kamu tuh udah cakep. Mau bukti?"
"Bukti?"
"Iya," sahut Ray, lalu menarik lengan si gadis, setengah menyeret menelusuri lorong keluar. Dewi tak bisa menebak apa yang ada di dalam benak pemuda itu. Sampainya di depan bioskop, Ray menghentikan langkahnya. Berbalik, ia menatap mata gadis di depannya.
"Mau bukti?" Dewi memiringkan kepalanya. Menunggu, walau dalam hati ia seratus persen yakin pemuda itu akan melakukan sesuatu yang gila. Gadis itu melihat Ray tersenyum. Kedua lengan si pemuda terulur. Dalam satu gerakan cepat, Ray sudah memeluk kedua paha gadis itu, lalu mengangkatnya tinggi-tinggi.
"Kamu," desis Ray saat gadis itu masih di dekapannya, "sudah cantik." Dewi memekik. Suara tawa terdengar di mana-mana. Sekejap para pengunjung food court merasa hangat. Sepasang suami isteri tanpa sadar menyatukan jemari mereka dalam genggaman. Seorang gadis di depan counter McD memeluk pacarnya yang tersenyum, ingin ia diperlakukan demikian.

"Kamu gila, ayo sini!" Dewi menggerutu kemudian, seraya menarik lengan Ray menjauh. Pemuda itu hanya terkekeh-kekeh. Senyumnya ditujukan membalas cengiran semua orang yang memandangnya. Di gang depan elevator, Dewi berhenti. Nafasnya tersengal. Gadis itu merasakan jemari Ray mengusap rambutnya. Dewi mengangkat kepala, melihat Ray tersenyum di balik helai rambut yang menutupi wajahnya.
"Aku mau peluk kamu. Boleh?" tanya pemuda itu seperti berbisik. Dewi tersenyum. Ray menarik gadis yang masih terengah itu dalam pelukannya.
"Lain kali jangan pernah minder ya, kalau sedang bersamaku." Gadis dalam dekapan mengangguk lemah. Ia tak berdaya di depan pemuda itu.

Dalam elevator yang sepi, mereka berciuman.

Basement yang sepi. Mesin mobil hidup. Ray melumat bibir gadis di pelukannya. Gadis itu memejamkan matanya, jelas ia sangat menikmati perlakuan pemuda itu padanya. Setiap sentuhan bibir yang lembut. Helai-helai rambut yang terkadang menggelitik lehernya. Pelukan si pemuda membuat Dewi merasa nyaman. Mata gadis itu terbuka dengan sirat kekecewaan saat Ray melepaskan tubuhnya. Kesunyian menyusup diam-diam, mencuri waktu, sampai mereka keluar dari mall. Ray termenung dalam pikirannya sendiri. Ia merasa ada sesuatu yang salah, yang ia sendiri belum bisa mengerti apa adanya. Semua sudah berlangsung dengan seharusnya, sesuai dengan apa yang diinginkannya untuk terjadi. Namun di elevator tadi, saat ia melumat bibir gadis itu, ada sesuatu yang janggal. Sesuatu yang hanya bisa dirasakan, tak bisa dilihat dan diungkapkan dengan kata. Ray membuang pikirannya jauh-jauh saat merasakan Dewi menggenggam jemarinya.

"Ada apa?" tanya si pemuda. Dewi tersenyum dengan tubuh dimiringkan, hingga menghadap si pemuda. Jemarinya yang menempel di jemari Ray bergerak, mengelus, meraba.
"Ada apa?" tanya Ray lagi, kali ini sambil menoleh dan tertawa. Dewi menggelengkan kepalanya.
"Aku tak kunjung kehilangan heran," kata gadis itu lirih.
"Heran?"
"Ya," lanjut si gadis, "heran kenapa kita bisa bertemu. Untukku, kamu seperti seorang asing yang masuk tanpa ketuk pintu. Tapi kenapa ya, kok aku tidak bisa mengusirmu keluar setelah kau masuk."
"Kamu mau mengusirku?" senyum Ray, matanya memandang lurus ke depan. Dewi menggeleng, "Tidak. Aku tak ingin kamu pergi malah."
"Kamu mencintaiku," ucap Ray menuduh. Gadis di samping si pemuda tersenyum. Dewi menggunakan lengan Ray untuk menarik tubuhnya mendekat. Satu susupan di lengan si pemuda, Dewi menempelkan tubuhnya, menyandarkan kepala di pundak Ray. Si pemuda menoleh dan nyengir. Ia melepaskan pegangannya di setir mobil, lalu mengelus rambut si gadis.
"Ray! Siapa yang nyetir?" seru Dewi setengah tertawa. Ray, dengan sikap tenang berkata, "Biar saja. Ini kan mobil otomatis."

Teeeettt!! Teeeettttt!! C’kiiiiiittt! "Hey!!"

Di tengah jalan. Di tengah keramaian pengemudi gusar. Mobil itu berhenti. Salah seorang sopir taksi turun dari mobil, menghampiri dengan jemari terkepal.
"Hey, kamu….," kata-katanya terhenti. Di dalam mobil itu, dua makhluk berpagutan, berpelukan. Melekat. Si sopir serba salah. Ingin mengetuk, tapi kok rasanya tidak toleransi. Ia teringat, dulu juga ia pernah muda. Menghentikan becaknya di pinggir sawah. Mengecup bibir perawan desa yang kemudian menjadi isterinya. Mirip di tipi-tipi. Si sopir akhirnya surut kembali ke mobilnya. Kerinduannya akan sang isteri muncul. Saat si sopir melewati mobil yang masih berhenti itu. Ia melihat lengan kanan orang di belakang setir terangkat. Sebuah jempol teracung.

A Fish Called Shinta tiga belas hari sebelum Deadline

Aku melayang mengarungi masa
Hingga hilang semua asa
semua pedih
semua sesal

Jay berlari-lari menyeberangi lapangan sepak bola itu. Menuju motornya yang terparkir anggun di ujung lapangan. Rambut gondrongnya berkibar-kibar seirama dengan jaket kulit hitam yang dikenakannya. Seolah berkejaran dengan degup jantungnya yang bertalu-talu. Memaki dalam hati, pada keadaan yang membuatnya terjebak di tempat itu.
"Shit! Sial bener!" Dengan tergesa, diraihnya setang motor, lalu memutar kunci cepat-cepat. Sedetik kemudian, dengan suara menggelegar, motor itu melompat garang. Seperti anak kucing yang terinjak ekornya. Menakjubkan. Jay masih saja memaki-maki dalam hati. Kalau bukan karena tugas dari kantor yang mengharuskannya meninggalkan Surabaya selama empat hari, ia pasti sudah merangkai salah satu roman terbaiknya bersama Shinta. Dan semua karena satu hal : Profesionalisme. Bah! Sudah sejak dua hari yang lalu, tidur malamnya selalu tak nyenyak. Pasti karena di lapangan itu banyak nyamuk. Dan yang paling mencintai darahnya, adalah nyamuk betina yang dinamainya : Shinta. Mendadak, berkelebat wajah yang paling ingin dilupakannya saat itu dalam pikirannya. Wajah seorang berambut gondrong lain, yang tiba-tiba menyeringai dengan dua taring berlumuran darah segar. Darah perawan. Sigap tak mau kalah, ia balas menyeringai. Memamerkan dua gerahamnya yang kering. "Aku kalah…" bisik hatinya malu. Tapi Jay masih memacu motornya dengan kecepatan tinggi. Ia berharap pada keajaiban.

Jay memasukkan koin terakhirnya ke kotak telpon di hadapannya. Ia sudah berlarian kesana-kemari sambil mendorong motornya yang kehabisan bensin, untuk mencoba menelpon Shinta. Dan sialnya, semua kotak telepon yang dicobanya, menelan dengan kejam koin-koin harapannya.
"Ini yang terakhir…" batinnya sedih. Sudah dilupakannya emosi yang membuatnya nyaris merontokkan kotak terakhir, juga kekesalan pada kebodohannya yang lupa mengambil dompet dan ponsel yang dititipkannya pada seorang kru di lapangan bola di kota Malang siang tadi. "Kling." Ia menatap layar di kotak itu dengan serius. Tapi tak ada yang berubah di sana. Tiba-tiba, Jay merasa tanah yang dipijaknya berputar. Ia lalu terduduk di tepian jalan. Bersandar di sisi motor kesayangannya. Lemas. Dan merasa begitu tak berdaya. Perlahan, ia merogoh saku jaket kulitnya, mengeluarkan sebatang kretek kegemarannya. Menimang-nimang beberapa saat, lalu menusukkannya lembut di sela bibirnya, seraya menyalakan Zippo di tangan yang lain. Mulai mengepulkan asap. Bergumam lirih, "Aku belum kalah, Ray…. " Mata Jay menerawang ke langit biru di atas sana. Perlahan, sosok yang tadi hanya menyeringai, kini mulai terkekeh dan tersenyum riang. Jay merasa perih di dadanya. Tiba-tiba, ia begitu ingin menangis. Tapi tak bisa. Dalam kelelahan dan rasa putus asa yang menyesak, Jay terlelap di situ. Ia pun tak terusik, ketika gerimis mulai berjatuhan dan langit mulai gelap. Jay menggeliatkan badan geli, ketika sesuatu yang hangat terasa menyelusup ke balik jaketnya. Sekejap, ia sudah tersadar. Hujan telah benar-benar deras, dan matahari sudah tak ada di atas kepalanya. Sigap, dikuaknya kerah jaket kulitnya. Di dalam sana, seekor anak kucing, basah dan kedinginan, sedang meringkuk mencari kehangatan. Jay tertegun sesaat, saat mata mereka bertatapan. Detik berikutnya, ia sudah tertawa terbahak-bahak. Langit seolah terang-benderang baginya. "Huahahahaaha! Aku belum kalah, Ray! Belum!" "Hahahahahahaa!" Tawanya membahana menyaingi derasnya hujan yang turun. Ia baru saja mendapat pencerahan.

Shinta melirik kembali dari balik gorden di ruang tamu asrama. Ia berharap-harap cemas. Sudah empat hari, pemuda itu tak menghubunginya. Tidak sepatah kata pun, sejak saat terakhir mereka bersama.
"Aku mau ke Malang, Shin. Ada event di sana."
"Jadi, kapan kamu balik?"
"Heheheh… nggak ngerti. Ngerti juga, aku nggak mau kasih tahu. Biar surprise!" Jay meringis menggoda gadis itu. Ia benar-benar menikmati mimik gadis di depannya. Yang sedang tersiksa antara gengsi dan rasa tak ingin ditinggalkan. Gadis itu sebenarnya hanya tak ingin dianggap `gampang’. Tapi Jay, juga sedang berjudi dengan umpannya kali ini.
"Apaan sih, kamu! Bilang gitu aja nggak mau!" Shinta memanyunkan bibirnya.
"Emang, ada yang nungguin?" goda Jay sekali lagi.
"………"
"Ya udah, aku pergi dulu."
"Jay, telpon ya?" akhirnya hanya itu yang bisa terucap dari bibir Shinta. Jay hanya menggelengkan kepala cepat. Senyum simpulnya masih ada di sana.
"Sorry. Be Professional, right?" tukasnya sebelum melambaikan tangan dan berlalu dengan motornya. Dalam benaknya, Jay berkhayal, gadis itu akan berteriak memanggil namanya sambil terisak. Lalu, ia akan berbalik. Menghentikan motornya, mengembangkan pelukannya, dan menikmati tiap tetes air yang mengalir di dadanya. Membelai rambut panjang Shinta, mengucapkan kata-kata penghibur hati, dan akhirnya, mendaratkan kecupan di bibir gadis itu. Tapi itu semua memang hanya khayalannya saja. Karena gadis itu segera berlari masuk ke asrama, dan membanting daun pintu keras-keras. Marah. Jay tersenyum sendiri. Khayalan konyol, pikirnya.

Untuk ketiga kalinya, Shinta menyibakkan gorden itu. Ia mencoba melihat menembus derasnya hujan yang mengguyur kota sejak sore tadi. Entah kenapa, rasa rindunya benar-benar tak tertahankan hari ini. Lalu, matanya menangkap bayangan itu. Seolah keluar dari kegelapan malam. Yang makin lama makin mendekati Asrama Putri. Melangkah setengah terseret, seperti tak bertenaga. Sesosok pemuda yang memeluk gumpalan gelap sedang mendorong motor besar.
"Jay!" jerit Shinta tertahan. Tak mempedulikan hujan yang masih mengguyur di luar, Shinta berlari dan terhenti di depan pagar yang sudah terkunci. Ia benar-benar tak memikirkan apapun lagi. Bahkan untuk sekedar mengambil payung. Dengan gelisah, dipandanginya Jay yang tersenyum tipis kepadanya. Rambut gondrong pemuda itu basah kuyup oleh air. Begitu pula wajahnya yang terlihat pucat. Tubuh kurus dan belulang iganya melekat erat dari balik T-shirt berwarna putih tipis.
"Jay, kamu nggak apa-apa?" mata Shinta sudah berkaca-kaca.
"Sssh…udah. Aku nggak pa-pa." Jay mengucapkannya dengan bibir bergetar karena dingin yang menusuk. Shinta yang menyadarinya, merasa dadanya bagai diiris. Jay mengangsurkan gumpalan dalam pelukan lengan kirinya, yang ternyata jaket kulit hitam miliknya.
"Ini, tolong kamu rawat. Kasihan…." Shinta menerima jaket itu dengan perasaan heran, dan sedikit terkejut, ketika disambut dengan tatapan mata yang polos dan suara mengeong. Kucing?
"Aku nemuin tadi di jalan, kehujanan," sambung Jay lambat-lambat, "mau kan?" Shinta mengangguk. Air matanya sudah berderai tak tertahan, meski tanpa suara.
"Jay…" Shinta tak mampu menyelesaikan kalimatnya. Jemari Jay yang dingin sudah menggenggam erat jarinya.
"Aku, cuman mau bilang…. aku sayang kamu…." Ada suatu kehangatan di bola mata Jay saat mengucapkannya. Shinta tak mempedulikan semua teriakan dari ego dan harga diri di kepalanya yang selalu menghantuinya selama ini. Ia memeluk tubuh pemuda di depannya dengan satu tangan. Merengkuh erat. Dari sela-sela pagar.

CHAPTER THREE - PREPARING FOR THE BEST PART

Dua puluh hari waktu ditetapkan, berburu ikan
Ikan dapat, disayang, mau dibunuh-dimakan
Lalu ikan dibuang….

Enam hari sebelum Deadline
Some faces of Ray

Beberapa menit ia membiarkan keheningan menemaninya. Saat-saat seperti itu, adalah saat-saat yang paling dinikmati oleh Ray. Ketika di mana pikirannya bisa berjalan lebih lancar. Ia termenung menatap rintik yang masih belum juga reda di luar rumah. Terkadang, pemikiran tentang adanya suatu kata `dosa’ bisa membuatnya terpekur seperti itu. Tapi seperti kebiasaan yang sudah melaju dalam darahnya. Tiada kata menyesal! Senyum itu muncul saat ia mematikan puntung rokok di jemarinya. "Gadis, kasihan sekali," bisiknya, lalu bangkit berdiri.

Wanita memang bagaikan roman picisan. Tak ada yang menarik selain sentuhan, kehangatan dan kelembutan bibir. Selain itu, semua bisa didapat di mana-mana. Bahkan di emper toko sekalipun. Untuk semua itu, Ray menganggap tak lebih dari sekedar rendesvouz dalam detik-detik yang ia jalani. Intermezzo. Sesuatu yang melintas di jalan sepi, untuk kemudian menghilang-muncul lagi dalam sosok yang berbeda. Sekarang, ia akan mengakhirinya. Kejam? Ataukah baik-baik? Semua itu tergantung pada dirinya sekarang. Beberapa orang suka membahas tentang `cara bermain layang-layang’. Cara yang digunakan orang-orang untuk mempertahankan sesuatu yang menyenangkan, yang dipastikan akan tetap ada saat diperlukan. Bukannya Ray tidak memikirkan tentang hal itu. Tapi menurutnya, biarlah kali ini lepas semuanya, tersapu bersih. Ia tak ingin diganggu nanti. Tidak oleh Dewi.

Menabur benih cinta, sebuah perkara yang mudah. Menyemainya, jauh lebih mudah. Pria terjahat di dunia itu sudah siap kini. Menghancurkan impian, itu misinya. Satu seduhan di cangkir kopi Jawa Timur, Ray meraih kunci mobil. Pikirannya hanya satu, yaitu tentang kebekuan yang sudah dipeliharanya lama lalu. Yang harus keluar sekarang. Sudah tiba masanya. Sekali lagi berkelebat pertanyaan: Kejam? Ataukah baik-baik? Ebes menggeleng-gelengkan kepala saat melihat pemuda itu berlalu tanpa kata. Belum membayar pula. Tapi dalam hati Ebes, ia sudah mengerti saat-saat itu. Ketika di mana Ray terlihat serius. Tak ingin dan tak bisa diganggu.

Menelusuri jalanan, Ray memikirkan banyak hal. Sebetulnya Dewi bukanlah seorang gadis yang tak masuk dalam hitungannya. Gadis itu cantik, baik, dan punya segudang kelebihan dibanding gadis-gadisnya yang lalu. Tapi seperti kata orang-orang, jika ingin mengerjakan sesuatu, jangan campurkan dengan kesenangan. Di sebuah tikungan, Ray berhenti. Menekan beberapa tombol di handphone. Sebuah sapaan bernada girang terdengar dari seberang.
"Halo, Ray."
"Hai," sahut Ray.
"Ada apa? Katanya kamu banyak kerjaan hari ini?"
"Tidak apa-apa. Aku hanya ingin memelukmu. Itu saja."
"Lewat telepon?"
"Seandainya bisa."
Suara tawa terdengar dari seberang. Lama setelahnya, hening.
"Ya kamu ke sini saja."
Ray tersenyum. "Tidak terlalu malam untukmu? Nanti kalau ketahuan…"
"Tidak. Ke sini saja, aku akan menemuimu di luar." Dalam perjalanan menuju Asrama Puteri, Ray merasa sedikit bingung. Ia memang terkadang terlalu impulsif dalam mengambil keputusan. Seperti yang baru saja ia lakukan. Untuk apa ia malam-malam datang ke Asrama Puteri? Hanya untuk menemui Dewi? Omong kosong, pikirnya. Lalu? Lalu aku hanya akan membuktikan bahwa ia bukan apa-apa, ucap Ray, masih dalam hati. Dengan tersenyum penuh percaya diri, Ray membiarkan konsentrasinya kembali ke jalan raya.

Dewi sudah menunggunya di depan pagar, saat ia tiba. Ray menurunkan jendela mobil, lalu tersenyum dan berkata,
"Aku tidak ingin tahu caramu keluar."
Gadis itu tertawa. Ray mengeluh dalam hati, gadis itu cantik sekali. Satu lambaian tangan kemudian, Dewi sudah membuka pintu mobil dan masuk. Ray tertawa kecil saat melihat gadis itu hanya duduk diam. Pandangan gadis itu seoah mengatakan bahwa ia menunggu pelukanku. Tanpa berkata apa-apa, Ray memiringkan tubuhnya dan memeluk gadis di sebelahnya.

Satu kecupan mesra di bibir, lalu Ray merebahkan kepalanya di pangkuan si gadis.
Dewi membelai rambut pemuda itu dengan lembut.
"Ada apa kamu? Kok jadi melankolis begini?"
"Tidak apa-apa," bisik si pemuda, "aku hanya ingin dipeluk."
"Manja."
"Memang, inilah aku."
Dewi tertawa kecil, sebelum membungkuk dan mengecup daun telinga Ray.
"Aku sudah menduganya. Bermanjalah, kapanpun kamu mau." Ray tersenyum, lalu menutup matanya. Sesuatu yang tak pernah ia pungkiri, adalah ia suka saat-saat kepalanya berada dalam pangkuan seorang wanita. Pangkuan itu lebih bisa membangkitkan nyamannya dibanding kasur dan bantal yang empuk. Penyakit lama. Mother complex. Dibawa kemana-mana. Menit-menit berlalu, tanpa terasa. Dewi tersenyum saat merasakan pemuda itu sudah terlelap. Nafasnya menghembus perlahan. Si gadis menyibakkan rambut yang menutupi samping wajah Ray. Mengamati beberapa lama, Dewi terenyuh. Di sudut mata pemuda itu, ia bisa melihat kerutan-kerutan. Wajah yang ada di pangkuannya itu, tidak seperti wajah yang biasa dilihatnya selama ia mengenal pemuda itu. Wajah ini sungguh jauh dari apa yang namanya bahagia. Dewi percaya, bahwa saat seseorang tertidur, itulah saat-saat di mana orang lain bisa melihat apa di balik semua cerita tentangnya. Dan mengingat hal itu, membuat Dewi berbisik lirih.
"Siapakah kamu sebenarnya?"
Seolah mendengar, tubuh Ray bergerak. Kedua ujung bibirnya tertarik. Pemuda itu sedang tersenyum. Dewi menghela nafasnya dalam-dalam. Gadis itu meletakkan sebelah tangannya yang bebas ke bahu Ray, lalu menyandarkan tubuhnya. Dewi memejamkan mata. Menikmati kebersamaan itu. Aku terlalu banyak menduga-duga, pikir gadis itu kemudian. Ray adalah Ray, yang sekarang berbaring di pangkuanku. Lain tidak. Aku percaya padanya.

Ray terbangun lama kemudian. Menggeliat. Tidur yang nyaman, setelah beberapa hari kesibukan menyita waktunya untuk tetap terjaga. Pemuda itu menoleh dan melihat wajah Dewi dan senyum gadis itu di atasnya. Dalam tidurnya, Ray teringat sebuah perasaan aneh yang dirasakannya saat di elevator tempo hari. Sesuatu yang gawat. Ia merasakan kehangatan dari gadis itu! Matanya menatap mata gadis itu sekarang, mencari perasaan itu. Ia menemukannya.
"Kamu kenapa?" tanya Dewi setengah berbisik.
Ray menggelengkan kepala. "Tidak," katanya, "kamu begitu istimewa."
"Istimewa?" tanya Dewi ingin tahu.
"Ya," lanjut Ray, "jarang ada gadis yang bisa membuatku hangat." Dewi tertawa kecil. "Kamu itu ada-ada saja," katanya, tapi mau tak mau wajahnya memerah, malu bercampur bangga. Ray bangkit dari pangkuan si gadis. Beberapa saat lamanya ia memandangi mata Dewi, membuat gadis itu merasa rikuh.
"Pandanganmu," bisik gadis itu, saat ia tak tahan lagi. Ray tertawa. Pemuda itu mendekatkan bibirnya ke telinga si gadis. Satu kecupan di pipi, Ray berbisik, "Kalau aku mengajakmu untuk bercinta. Kamu mau?" Dewi menoleh tanpa sadar. Wajah mereka benar-benar dekat kali ini. Gadis itu terdiam, tak tahu harus mengatakan apa. Ray tak pernah berkata demikian-diluar guyonannya yang memang terkadang menyiratkan keinginan untuk itu. Selama ini Dewi beranggapan Ray hanya bercanda. Tapi saat itu, ia melihat satu keseriusan di mata si pemuda.
"Ray, aku….."
"Ssshh," Ray berbisik. Bibirnya meraih bibir si gadis. Lama. Waktu seolah berhenti. Dewi mengerenyitkan alisnya. Kali ini berbeda. Ada sesuatu yang lain dalam kecupan itu. Sesuatu yang memaksanya untuk menyerah. Gadis itu terengah saat Ray melepaskan bibirnya. Ray menggeser wajahnya, menempelkan pipinya ke pipi si gadis, menghembuskan nafasnya halus, memastikan gadis itu merasakan getaran-getaran penggoda.
"Apa itu tadi, Ray?" bisik Dewi lirih.
"Itu," desah Ray di telinga si gadis, "namanya kehangatan. Keinginan. Hasratku." Dewi memejamkan matanya. Perlahan tapi pasti, angannya terbuai. Terlena. "Besok datang ke rumah?" desis Ray kemudian. Tak ada jawaban. Tak ada gerakan. Dewi mengeluh dalam hatinya. Ia benar-benar kebingungan kini. Gadis itu merintih dalam hati. Hasratnya bergejolak. Satu anggukan kecil terjadi kemudian. Tak bisa dilihat Dewi, Ray membuka mata dan tersenyum. Gotcha!! Kehangatan yang kauberikan untukku akan membuatmu jatuh.

"Sekarang," bisik Ray, lalu tiba-tiba menarik tubuhnya mundur.
"Sekarang?" Dewi bertanya, Jantungnya berdegup kencang. Apa maksudnya? Dalam debar jantungnya, gadis itu melihat pemuda di sampingnya membungkuk, lalu meraih-raih sesuatu. Sesaat kemudian, kaki pemuda itu sudah berada di atas kursi. Dewi tergelak tanpa bisa ditahan.
"Aduh," gerutu Ray, "sori jempolku…"
"Aku tahu," potong Dewi, "jempolmu birahi, kan?" Ray mengangkat kepalanya, memandang dengan wajah bodoh. Mereka berdua lalu tertawa. Segala rasa kikuk menghilang, berganti dengan kemesraan. Dewi masih menyimpan debaran itu di dadanya. Ray pulang beberapa saat kemudian tanpa menyinggung tentang ajakan itu lagi.

Delapan hari sebelum Deadline Some faces of Jay

Jay mengetuk-ngetukkan pangkal kreteknya ke kaca arloji. Ia sedikit sebal dengan warung rokok di ujung jalan sana. Bukan apa-apa. Masa rokok kretek idolanya seempuk tahu Ebes?! Benar-benar merusak selera, batin Jay lagi. Ia sedang duduk di bawah sebatang pohon di parkiran Kampus Merah. Sesekali, hidungnya menarik cepat cairan yang nyaris menetes dari lubang hidungnya. Sejak empat hari yang lalu, ia terserang influenza berat. Dan belum membaik hingga saat ini. Entah kenapa, ketahanan tubuhnya kini menurun drastis. Ia semula sempat khawatir, jangan-jangan si OHIDA - Ray, telah menularkan virusnya hari-hari kemarin, waktu mereka berbagi secangkir kopi di Warung Senang. Atau juga karena TBC yang diidapnya sudah melewati tahap stadium menengah? Entahlah. Jay sedang mencoba tak peduli dengan tubuhnya. Ia sedang mengkhayalkan tubuh yang lain. "Heheheh…" Jay terkekeh sendiri. Mirip orang gila di RSJ Menur sana. Dasar.

Jay masih terlena dengan segala khayalan kotornya, bahkan saat dua telapak tangan mungil mendekap erat kelopak matanya dari belakang. Ia bahkan mulai tertawa-tawa dengan nada cabul, sementara si pemilik tangan yang semula tersenyum-senyum riang berubah melongo atas reaksi pemuda itu.
"Heheheh…. yaa.. matiin aja lampunya… heheheh.. mmhhh"
"Aduh, geli sayaaaang, jangan digelitikin dooong…!"
"Hehehe…. jangan dibuka dulu ritsluitingnyaa… uuuhhh" Jay meracau makin tak keruan. Gadis itu, Shinta, sontak melepaskan tangannya. Kedua alisnya tersambung. Ia melangkah ke depan Jay, mengamati wajah pemuda itu yang lalu berseru, "Yaa! Kok dinyalain lagi lampunya!" protes Jay sambil tetap memejamkan mata.
"Jay!" Shinta berteriak kesal.
"Hah??" Jay membuka kedua matanya. Kaget. Satu-satunya yang masih tulus dari Jay. Shinta berkacak pinggang dengan muka masam. Bibirnya yang semestinya indah, sudah bertekuk bagai lapis legit Surabaya. Tapi Jay tak pernah suka makanan yang manis-manis. Bikin diabetes, katanya satu kali.
"Euuhh, ada apa, Sayang?" Jay mencoba merayu dengan wajah dipolos-poloskan.
"Kamu abis ngapain, barusan?!" Shinta menatap penuh selidik. Ia mencari tanda-tanda ketidak sadaran di wajah pemuda itu. Tapi yang ditemuinya malah wajah malu-malu dan tatapan seorang maling jemuran yang tertangkap basah.
"Aku.. aku… abis fantasi….." Jay akhirnya berkata jujur. Wajahnya menunduk ke rerumputan. Sesaat, ia berharap ada uang receh yang tercecer. Lumayan, buat nelpon, pikirnya. Jay memang kurang peka pada situasi. Shinta membelalakkan mata takjub. Petir di siang bolong, mungkin hanya membuatnya tersipu dibanding pengakuan jujur barusan.
"Di sini? Siang-siang?!" pekik Shinta tertahan. Tanpa sadar, sebutir keringat dingin menetes di kening Shinta yang licin. Berfantasi seks di tempat dan waktu seperti ini, jelas bukan tanda seorang pemuda normal, bisik hati Shinta. Ia seperti baru saja mengenal Jay, atau setidaknya sisi Jay yang satu ini. Bahkan setelah kejadian malam hujan deras beberapa hari yang lalu.
"Berapa banyak sisimu lagi yang aku belum tahu, Jay?" tusuk benaknya. Ada kengerian yang menerkam jantungnya. Ia bergidik. Kesunyian melanda mereka berdua untuk beberapa detik.
"Eh, kita nyari makan, yuk?" Jay tiba-tiba saja berdiri lalu meraih lengan Shinta. Sepertinya, akal sehat sudah kembali di dalam kepalanya. Gadis itu semula berniat menepiskan tangan Jay yang terulur, tetapi sudut matanya menangkap kesungguhan di raut muka pemuda itu. Dan bola mata kecoklatan Jay, tampak begitu hangat. Kehangatan di malam hujan deras. Dan wajah gadis itu lalu tertunduk. Shinta menurut saja saat Jay menggandeng lengannya dan membawanya pergi. Namun, jauh di dalam hati, Shinta mendengar hati kecilnya mengucapkan peringatan. Mengenai pemuda yang telah mengambil hatinya dengan sukses ini. Bahwa ia, masih saja mendapati hal-hal yang asing dalam diri Jay. Misterius, dan terkadang bisa begitu mengerikan.

Mereka duduk bersebelahan di depan meja panjang kantin Kampus Biru. Jay asyik sekali menghadapi sepiring krengsengan yang dipesannya. Makan dengan lahap, memasukkan sendok demi sendok nasi dengan kegembiraan khas anak-anak. Shinta meliriknya sesekali dengan mimik menahan tawa. Pemuda itu seolah tak bertemu makanan selama sebulan. Dalam tujuh menit, piring itu telah licin. Jay melirik ke kiri-kanan. Shinta menyodorkan sebotol teh di sampingnya.
"Nih, minumnya."
Jay tersenyum bahagia, lalu menyedotnya seperti bayi yang kehausan. Habis juga. "Huuaahh, kenyang deh…" Jay menyandarkan tubuh ke dinding kantin, lalu menepuk-nepuk perutnya yang terlihat membuncit. Satu tangannya yang lain sudah menggenggam sebatang kretek yang siap disulut. Benar-benar cekatan, batin Shinta geli. "Kamu selalu ngabisin makanan sampai licin, Jay?" ucap Shinta sambil tersenyum menggoda. Mie baso di depan gadis itu masih tersisa separuh. "Heheheh…" kekeh Jay seraya tersenyum-senyum senang, sambil mengepulkan asap kreteknya lambat-lambat. Dasar sableng, ia merasa ucapan Shinta sebagai sebuah pujian atas kemampuannya yang `mempesona’. Mendadak, Jay menegakkan tubuh. Senyumnya sudah menghilang. Matanya menatap sayu, lurus ke depan. Bersiap.

Shinta yang masih mengamatinya, jadi terheran. Ia mengikuti arah tatapan mata Jay. Seorang gadis berambut cepak, berwajah manis, berkulit kuning, dengan tubuh tinggi semampai menggiurkan, berjalan mendekat ke arah mereka. Kesinisan di raut wajahnya, membuat Shinta langsung merasa tak suka. Gadis berambut cepak itu berdiri tegak di hadapan mereka. Ujung dagunya yang runcing terangkat, "Jadi kamu cewek barunya? Anak kecil!" si Cepak melempar pandangannya ke arah Shinta. Api terpancar di bola mata si Cepak. Shinta mengerutkan keningnya. Ia tak suka membuat masalah. Tapi dadanya sudah bergolak. Mendadak, ia merasakan genggaman di jemarinya. Terheran, ia menoleh ke samping. Jay masih tetap duduk, dengan pandangan sayu yang sama, dan kepulan kretek dari bibirnya. Hanya kini menunduk, menatap ke atas meja.
"Aku cuman mau makan dengan tenang, Rin. Dan dia temanku." Jay berkata lirih. Ia sengaja tak menatap ke arah si Cepak yang dipanggil Rin. Ada yang disembunyikannya dari dua orang gadis di dekatnya itu. Sesuatu dalam sinar matanya.
Rin mendengus kesal. Ia berpaling menatap Jay sekarang.
"Temen? Hah! Dasar playboy!"
"Elo punya temen cewek?!"
"Seinget gue….." si Cepak nyaris melanjutkan kalimatnya, ketika Jay tiba-tiba berdiri dan menatap lurus ke bola mata gadis itu.
"Rin, please… jangan ganggu kita." Kata-kata Jay terdengar berat dan dingin, seolah berasal dari dasar dadanya. Tetapi yang membuat Rin dan juga Shinta tercekat hampir bersamaan, adalah sorot tajam mata pemuda itu. Menyala-nyala dengan kebencian dan kekejaman. Bengis. Si Cepak seketika membalikkan tubuh dan bergegas menjauh. Tak menoleh-noleh lagi. Shinta lalu tersadar, genggaman Jay di jemarinya terasa sedingin es. Satu lagi hal baru yang ditemuinya tentang Jay. Yang pernah didengarnya dulu. Jay yang dingin.

Tetapi Shinta bersyukur, setidaknya gadis yang menyebalkan itu sudah pergi. Ia mencatat satu hal baru, yang perlu ditanyakannya pada Jay nanti. Apa masalahnya dengan gadis yang dipanggil Rin itu. Mereka sepertinya pernah mengenal dekat, terka Shinta dalam hati. Jay seolah bisa membaca pikiran Shinta. Matanya berubah lembut, "Dia mantanku, namanya Rinka."
"Oh?" Shinta sedikit kaget.
"Dan nggak pernah suka tiap kali ngeliat aku jalan sama gadis-gadis," Jay mengisap kreteknya dalam, "yaa, dia tipe posesif, dan masih pengen balik sama aku…."
"Jay," potong Shinta cepat-cepat, "gadis-gadis? Kamu beneran playboy?" Shinta tersenyum simpul.
"Eh, maksudku, bukan pacar lho…!" tukas Jay sigap. Ia sadar sudah salah omong. Gadis ini terlalu cerdas dibanding yang lain. Calon pengacara, sih.
"Iya-iya. Aku juga tahu. TTM `kan?" Shinta masih saja menggoda pemuda itu. Ia selalu suka melihat Jay salah tingkah. Kekanak-kanakan. Lucu.
"Hahaha…!" tawa Shinta meledak, demi melihat Jay hanya bisa meringis culun seraya menggaruk-garuk kepalanya. Salah satu pose favorit Shinta dari Jay.

CHAPTER FOUR - THE BEST PART (HARVEST SEASON)

Lima hari sebelum deadline Schyte yang terayun

"Tidak, aku tidak bisa," pemuda itu mendorong tubuhnya bangkit. Nafasnya tersengal, keringat mengucur di sekujur permukaan kulitnya. Menutupi kedua wajahnya dengan talapak tangan, ekspresinya menggambarkan bahwa suatu perasaan galau berkecamuk.
"Ray?" gadis di atas sofa berbisik lirih. Kepasrahan yang menyelimutinya belasan menit lalu membuat air matanya menitik keluar. Berusaha menutupi ketelanjangannya, Dewi mengangkat tubuhnya. Si pemuda tak mengatakan apapun. Sikapnya diam bagai batu. Sebuah sentuhan telapak tangannya di punggung Ray, Dewi merasakan tubuh pemuda itu bergetar. Helaan demi helaan nafas terdengar kemudian.
"Kamu kenapa, Ray?" Tiba-tiba, pemuda itu melepas tangannya, menepis sentuhan di tubuh belakangnya. Kepalanya tertoleh. Dewi terhenyak saat melihat ada air mata di situ.
"Jangan," desis Ray, nadanya berat dan dalam.
"Ray, kamu kenapa?" bisik Dewi gelisah. Pemuda di depannya bergesar menjauh. Pandangannya beralih ke lantai. Rambut-rambut yang semula lengket di lehernya, jatuh membentuk tirai menutupi wajahnya. Dewi tak berani mendekat. Tak berani menyentuh lagi.

"Aku," Ray berbisik, "aku sudah membuat dosa." Alis si gadis berkerut. Ia diam, menunggu kelanjutan dari si pemuda. Ray menoleh, menatap Dewi dengan matanya yang merah. Mereka saling bertatapan. Sejuta kata mengalir tanpa bisa dimengerti. Ray mengulurkan tangannya, menempelkan telapak tangannya di pipi gadis di depannya. Dewi memejamkan mata. Ia bisa menangkap satu kesedihan disitu. Air mata jatuh lagi.
"De, aku sudah berdosa padamu," pemuda itu berbisik lagi. Hati Dewi bergetar. Sedari awal ia sudah tegang saat Ray benar-benar mengajaknya ke rumah pemuda itu. Ia kemudian tak juga mengerti, mengapa ia bisa terlena seperti itu saat Ray memeluk dan menciuminya. Ia tak mengerti, mengapa ia bisa begitu pasrah saat pemuda itu menelanjanginya, menyentuh semua bagian tubuhnya. Lama Dewi memejamkan mata. Kalau dosa itu yang dimaksudkannya, maka Dewi bisa bernafas lega. Karena dosa itu belum terlalu dalam. Belum sempat terjadi apa-apa. Gadis itu menggerakkan kepalanya. Dengan memejamkan mata, ia mengecup telapak tangan si pemuda. "Aku tahu, Ray," bisiknya lirih.

"Kamu tidak tahu," Ray mendesis. Dewi membuka mata, menatap pemuda itu heran. Ray menarik telapak tangannya, meraih selembar kaus yang tergeletak di lantai, lalu memberikannya pada Dewi. Sebuah senyum di wajah pemuda itu saat ia berbisik, "Kamu pakailah." Dewi membalas senyuman itu, mengambil baju yang disodorkan, lalu memeluk baju itu di depan dadanya. Dingin sekali di dalam ruang tamu itu. Di tengah gelap, kesunyian datang lagi. Ray memiringkan tubuhnya dan meletakkan sisi tubuhnya di atas kedua paha telanjang si gadis. Dewi mengulurkan jemarinya untuk membelai rambut ikal si pemuda. Benak gadis itu melayang-layang. Betapa ia mencintai sosok satu ini. Sekarang tambah satu point yang meyakinkannya. Pemuda itu tak berniat sama sekali untuk memilikinya secara fisik. Pasti itulah sebab mengapa ia menghentikan semua kenikmatan khayal tadi. Pemuda ini, batin si gadis, tahu kapan harus berhenti.

"De?" si pemuda memanggil namanya, Dewi membuka matanya yang sempat terpejam saat kesunyian melintas tadi.
"Hmm?" desahnya dengan nada bertanya.
"Aku mempermainkanmu. Kamu sadar itu?" Jatung Dewi seolah berhenti berdegup. Sisiran jemarinya di rambut si pemuda terhenti. Ia seolah terbetot dalam suatu tanda tanya besar yang mengerikan.
"Apa maksudmu?" bisik gadis itu. Nada suaranya bergetar ketakutan. Masih di atas paha telanjang si gadis, Ray memiringkan kepala, mengecup kulit yang putih bersih itu. Lalu ia menghela nafasnya dalam-dalam.
"Aku memang berniat mempermainkanmu. Hanya saja, aku merasa kamu terlalu berharga untuk kupermainkan." Dewi memejamkan matanya. Entah perasaan apa yang berkecamuk di hatinya saat itu. Air matanya mengalir ke pipi.
"Aku tak mengerti, Ray," bisiknya sendu, "aku tak mengerti." Ray mendorong tubuhnya ke dalam posisi duduk. Kepalanya tertoleh, menatap wajah gadis di sampingnya. Senyum mengembang di wajah pemuda itu.
"Kamu tak harus mengerti," bisiknya kemudian, sebelum membungkukkan tubuh, memunguti pakaiannya yang berserakan. Dewi tak berkata apapun, memejamkan mata, menggigit bagian bawah bibirnya, membiarkan keheningan mengiringi air matanya yang mengalir. Ia bisa merasakan saat pemuda itu bergerak, mengenakan pakaian, lalu bangkit berdiri. Ia tak mendengar dan merasakan apa-apa lagi. Khawatir, Dewi membuka matanya. Ray ada di samping wajahnya. Pemuda itu berjongkok, menatapnya dengan senyum.
"Ray…," Dewi memanggil nama pemuda itu lirih. Sebuah telunjuk menempel di bibir si gadis. "Ssshh," bisik Ray, "kamu pakai bajumu?" Dewi tersenyum. Lega. Di mata pemuda itu masih ada kehangatan.

Tiada kata-kata dalam perjalanan. Tidak ada canda, sentuhan, bahkan saling pandang. Mereka tenggelam dalam suatu situasi yang menghanyutkan. Lampu-lampu kendaraan berkelebat lalu lalang. Lantunan musik lamat-lamat dari radio memberikan kesan dramatis yang menghipnotis. Sepuluh, dua puluh, empat puluh menit berlalu sudah. Masih dalam keheningan yang sama. Ray akhirnya menghentikan mobilnya di depan Asrama Puteri. Teletik air hujan terdengar mengetuk atap mobil. Lima belas menit berlalu sia-sia. Hujan mulai turun lebih deras.
"Kamu tidak mau turun, De?"
Dewi menoleh, melihat pemuda itu tengah menatapnya. Dewi menggeleng.
"Aku tidak mau turun," katanya setengah berbisik. Ray tersenyum.
"Karena hujan, atau karena masih ingin berduaan denganku?" Dewi balas tersenyum, "Aku ingin berduaan denganmu." Tangan si pemuda terulur. Dengan telunjuknya Ray menelusuri garis tengah wajah si gadis. Dari kening, ke tulang hidung, bibir lalu dagu. Dewi memejamkan mata. Entah mengapa, dalam hati gadis itu terbersit sebuah ketakutan, ketakutan saat memikirkan kemungkinan bahwa pemuda itu akan meninggalkannya.
"Mau berhujan-hujan?" mendadak Ray berkata. Dewi membuka matanya, menatap pemuda itu dengan rasa heran. Ia melihat cengiran di wajah Ray. Sebuah cengiran yang nakal. Dewi tersenyum dan mengangguk. Sambil tertawa, Ray bergerak ke samping, membuka pintu mobil dan melangkah keluar. Pemuda itu mengitari mobil, untuk sesaat kemudian membuka pintu yang lain. Dewi memekik saat hujan membasahi rambutnya. Ray menarik lengan gadis itu, berdua mereka memejamkan mata dan tertawa, menikmati air hujan yang membasahi tubuh mereka. Dalam tawanya, Dewi merasa pemuda itu menarik tubuhnya dalam dekapan. Mereka berpelukan di samping mobil. Suara guntur menggelegar di kejauhan, tapi Dewi tidak takut. Ia merasa nyaman dan hangat.

Satu lagi kilat cahaya, yang disusul gelegar. Ray melepaskan pelukannya, dengan senyum tersungging menarik lengan si gadis melangkah menuju teras Asrama Puteri. Dewi menyeka air di wajahnya dengan tangan. Air sudah tak lagi mengguyur. Saat gadis itu membuka mata, ia sudah tak menyadari kehadiran si pemuda di sisinya. Ketakutan itu datang lagi. Dengan pandang mata gelisah, Dewi mencari-cari sosoknya di balik tirai hujan.
"Ray," serunya saat menemukan pemuda itu berdiri di samping lampu jalan, di luar pagar. "Jangan kemari!" ia mendengar pemuda itu berseru, saat ia hendak melangkah keluar teras. Dengan bingung, Dewi memandang ke arah sosok itu. Sosok yang tanpa berkata apapun, membalikkan tubuh dan berlari.
"Ray!" Dewi menjerit, menyadari ketakutannya berubah menjadi kenyataan. Ia berlari secepat mungkin. Terjatuh di rerumputan, beberapa meter di depan teras. Lututnya sakit, tapi ia mencoba untuk berdiri. Saat itulah matanya menangkap kelebat mobil yang begitu dikenalnya. Dewi jatuh terduduk di atas rerumputan. Matanya menatap nanar. Air hujan mengguyur, angin membuat setiap tetes seolah menamparnya. Satu kilat cahaya, satu lagi gelegar guntur. Dewi meraung. Ia menangis. Ia terluka. Meratap.

"Ray, aku mencintaimu.
Aku yakin kau juga demikian.
Mengapa? Mengapa?"

Bahkan sampai sepuluh menit ia meratap, gadis itu masih meyakini bahwa si pemuda meninggalkannya karena sebuah perasaan bersalah.

Di belahan kota yang lain, sebatang Marlboro dinyalakan. Sang iblis sendiri, terkekeh, saat menghembuskan asap dari ujung bibirnya. Sekarang tinggal menunggu, apa yang akan terjadi selanjutnya. Tak ada perasaan bersalah. Tak ada sesal. Tak perlu lagi memikirkan kehangatan semu di elevator tempo hari. Kakinya menginjak pedal gas dalam-dalam. Ada noda darah di ruangan gelap yang harus dibersihkan.

Lima hari sebelum Deadline. Real Jay?

Motor hitam itu melaju cepat di bawah siraman hujan rintik-rintik yang mengguyur Surabaya pagi itu. Dua orang pengendaranya, sepasang muda-mudi. sesekali tertawa-tawa riang. Mereka tampak menikmati momen itu.
"Jaayy, ujan nih, basah!" jerit Shinta.
"Lhah, emang mau kekeringan?" canda Jay sekenanya. Gemas, Shinta mencubiti pinggang si pemuda, yang hanya bisa mengaduh. Jalanan sudah lumayan ramai. Bisa gawat kalau si pemuda kehilangan pandangan, walau hanya sesaat. Ia hanya pasrah diserang demikian rupa.
"Shin, mampir tempatku , yuk?"
"Ah? Ngapain?" Shinta terkejut.
"Ganti baju aja. Masa kamu mau ke kampus basah-basah gini?" Shinta bisa merasakan desiran darah di vena wajahnya. Ke tempat Jay? Jauh di lubuk hatinya, ia merasa jengah, membayangkan dirinya, seorang gadis, yang nota bene masih benar-benar gadis, masuk ke rumah seorang laki-laki. Tapi benaknya mendorongnya untuk menerima tawaran itu. Di mana lagi tempat yang lebih baik untuk mengenal seorang lelaki selain di rumahnya? Benteng terakhir privasinya?
"Nggak mau? Ya udah." Jay sekuat tenaga menekan nada kecewa dalam suaranya. Duh, umpan terbaikku ditolak mentah-mentah, batinnya gundah. Resiko perjuangan. Tetapi, "Boleh…" Shinta berteriak menyaingi deru hujan dan kendaraan di sekitar mereka. "Eh? Oke…" balas Jay juga berteriak, "….horeee!" sambungnya norak dalam hati. Ia membelokkan setir dengan luwes. Lalu menarik gas penuh semangat.

"Masuk aja, Shin. Nggak usah sungkan-sungkan." Jay membuka pintu depan lebar-lebar. Melangkah masuk. Dengan santai, dilemparnya serangkai kunci yang digenggamnya ke atas meja ruang tamu. Shinta melongok ke dalam ruangan itu dengan hati-hati.
"Emm, nggak ada orang, Jay?" bisiknya pelan.
"Nggak. Aku cuman tinggal berdua ama adekku. Dia sekarang lagi mudik nemuin ortu." Jay menurunkan ransel hitamnya di atas lantai. Lalu dibukanya jaket kulitnya yang lembab terguyur gerimis tadi. Juga T-shirt di tubuhnya. Cuma tersisa jeans hitam yang membalut bagian bawah tubuhnya. Shinta terkesiap. Ini pertama kalinya ia menyaksikan tubuh polos Jay. Dada yang meski kurus dan ditonjoli belulang iga dan vena, tetapi ditumbuhi bulu halus di tengah-tengahnya. Shinta memalingkan wajah malu. Ini yang kedua kalinya, seorang laki-laki melepaskan pakaian di depannya begitu saja. Setelah bapaknya, tentu saja. Jay memasuki sebuah kamar dan kembali dengan handuk beserta satu set training berwarna hitam di tangannya. "Wah, cuman ada ini, Shin. Yang laen belom dicuci." Jay menyodorkannya ke arah Shinta. Gadis itu menerimanya sambil mengernyit heran. "Buat apaan, Jay?"
"Huu, elo udah kuyup gitu, gimana sih?" Jay meringis sambil mengedipkan mata.
"Ah?!" Shinta seperti baru tersadar. Ia melihat ke tubuhnya. Memang, kemeja sesiku yang dikenakannya lumayan basah, juga celana hipster putih yang dikenakannya. Tubuh indahnya terbayang begitu jelas di situ. Refleks, ia menutupkan training ke arah dadanya. Tapi Jay sudah berbalik, sambil menunjuk ke kamar yang baru saja dimasukinya, "Ya udah, ganti aja di kamarku. Aku mau mandi dulu nih." Shinta sejenak termangu. Kamarku? Kamar Jay?

Tak lama, terdengar suara shower dari kamar mandi. Juga suara Jay yang cempreng bersenandung keras-keras. Tak jelas, lagu apa yang diteriakkannya. Shinta mengendap memasuki kamar pemuda itu. Sebuah ranjang, lemari, meja, cermin seukuran orang dewasa, dan poster! Banyak sekali poster yang terpampang di dinding. Semuanya bergambar tokoh Superman. Itu, temannya Batman dan Spiderman. Cukup rapi untuk ukuran pemuda seperti Jay. Diam-diam, Shinta menyukai kamar itu. Nyaman, dengan selarik sinar matahari yang menerobos dari jendela nako menimbulkan hawa yang terasa hangat. Kamar itu ternyata menghadap ke Timur. Dalam cuaca hujan seperti ini, kamar Jay benar-benar tempat idaman. Bergegas, gadis itu menutup lalu mengunci pintu kamar. Pelan-pelan, Shinta melolosi pakaian luarnya sambil menatap bayangan di cermin. Mengagumi bentuk tubuhnya sendiri yang hanya tertutup underwear. Setengah menggumam, "Kamu memang menarik, Shin!" ucapnya pada cermin yang untungnya tak punya perasaan. Kalau punya, ia pasti sudah mengerayangi tubuh si gadis di depannya erat-erat. Sudah beberapa menit, tapi Shinta masih saja memandangi dirinya. Di benaknya, terngiang kembali rayuan pemuda-pemuda yang memuji-muji keindahan raganya. Ia bukannya tak sadar akan itu. Bagaimana pun, perempuan punya kecenderungan narcism. Memuja dirinya sendiri. Itu fakta. Sayang, gadis itu tak sempat `menikmati’ diri lebih lama lagi. Jay menggedor-gedor pintu dengan brutal.
"Wooii! Jangan nelor di dalem! Di WC aja!" teriak pemuda itu dari luar. Sebal sekali. "Iya-iya! Ini juga mau selesai!" Shinta menjawab ketus. Segera dikenakannya training set itu. Ternyata, kedodoran sekali. Terlihat lucu di tubuhnya. Seperti anak kecil yang hendak berolah raga dengan baju ayahnya.

Shinta membuka pintu kamar dengan wajah masam. Jay, yang tetap hanya mengenakan black jeansnya, spontan terbahak.
"Wuahahaahahaahaha! Mau maen bola di mana, Neng?"
"Hmmph. Ini `kan gara-gara baju elo!" Shinta merajuk, lalu duduk sambil menghempaskan pantat keras-keras di sofa.
"Sori-sori. Abis nggak ada yang lain…." Jay membela diri. Senyum masih di bibirnya. Dengan cuek, ia lalu duduk di lantai, berhadapan dengan gadis itu. Meraih asbak, kretek, dan Zippo. Tiga bersaudara biang penyakit, kata dokter. Tiga sejoli kekasihku, kalau versi Jay.

"Jay, aku minta tolong boleh?" ucap Shinta, setelah mereka saling berdiam diri hampir sepeminuman teh, sibuk dengan pikiran masing-masing. Sementara, hujan di luar sana belum juga reda.
"Hmmm? Apaan?" Jay menatap kepada gadis itu dengan raut serius. Memang hanya di rumah, seluruh kesadarannya terkumpul. Tak ada ulah konyol, kekanakan, atau pun melamun sendiri sambil tertawa-tawa.
"Ceritain dong, soal diri kamu, yang nggak dingertiin orang-orang?" Shinta menatapnya penuh harap. Jay tertunduk. Gadis ini cerdas sekali, batinnya. Lebih dari yang lain-lain. Menghisap dalam-dalam kreteknya, Jay membalas, "Boleh. Tapi aku pengen cerita sambil meluk kamu." Shinta seketika beranjak dari sofa, kemudian mengambil tempat di sisi Jay. Memeluknya erat dengan kepala menyandar di bahu si pemuda. "Begini?" tanya gadis itu manja. Jay tersenyum lembut seraya mengangguk. Lengan kurusnya balas mendekap Shinta. "Aku nggak bisa cerita semua, kecuali…"
"Apa lagi, Jay?" Shinta menunggu was-was.

"Ah tidak, nanti saja. Mau cerita yang mana dulu?" Jay melemparkan umpan pamungkasnya. Menggigit ujung bibirnya, sedikit kecewa, gadis itu berkata, "Apa saja, Jay." Si Pemuda tersenyum. Toh nanti akan datang waktunya. Lalu segala cerita mengenai dirinya, mimpinya, dan sejarahnya di masa lalu, mengalir dengan runtut. Nyaris semua. Gadis itu mendengarkan semuanya dengan seksama. Sesekali tertawa kecil, mengangguk serius, juga ikut tercenung, berempati pada kisah hidup pemuda itu. Hampir tiga jam, Jay berkicau sendiri. Hebat, bisa saingan sama beo. Shinta menikmati saat-saat ini, dengan segenap rasa. Misteri yang sempat dipikirkannya, tersingkap satu demi satu. Kecuali hal terakhir.
"Jay, mau nanya lagi." Ucap Shinta, ketika Jay sudah menyelesaikan novel hidupnya. Jay mengangkat sebelah alisnya. Menunggu.
"Kenapa, kenapa kamu nggak pernah nge-kiss Shinta?" ada kegusaran dalam nada si gadis. Jay menggelengkan kpala pelan. "Tanya aja yang lain, ya?" Shinta mengerutkan kening tak sabar. "Kamu nggak bergairah sama Shinta, Jay?" kejar gadis itu lagi. Sekali ini, Jay terdiam. Ia membuang muka. Shinta semakin penasaran.
"Jawab, Jay! Ayo!" Jemari mungilnya mencengkeram lengan Jay erat-erat. "Prinsip-prinsip kamu? Atau, karena menurut kamu, Shinta masih kecil? Seperti yang Rien bilang?" Gadis itu tersengal, egonya terusik. Belum pernah, ada yang bersikap seolah tak menginginkan dirinya. Bola matanya berkaca-kaca, diayun emosi. Jay menatapnya kembali. "Hei, hei, bukan itu masalahnya." Tukasnya sabar. Diusapnya perlahan rambut panjang gadis itu.
"Terus? Apa?!" Shinta menatap penuh tantangan. Berapi-api. Akhirnya, seperti yang sudah kuduga, batin Jay dalam hati.

Tanpa pikir panjang, Jay menjawab, "Karena itu pasti yang pertama buat kamu." Sedetik setelah mengucapkannya, Jay sadar, tak ada kata mundur setelah ini. Shinta tersenyum manis. Lalu dengan satu gerakan cepat, ia meraih wajah Jay dengan kedua tangannya, dan menyentuhkan ujung bibirnya dengan lembut ke bibir Jay. Merekahkan tepiannya, lalu melumat lambat-lambat. Pemuda itu memejamkan mata. Kehangatan bibir gadis itu, coba diresapinya dalam-dalam. Shinta menarik wajahnya mundur. Kelopak matanya tampak sayu. Sedang napasnya terdengar mulai cepat. "Bukan yang pertama, untuk sebuah kecupan, Jay…" Si Pemuda tak sempat menjawab. Gadis itu sudah membungkukkan punggung, menciumi tiap senti dadanya yang telanjang. Menggigit, menghisap. Bahkan menjilat. Jay kembali memejamkan mata, dengan kepala terdongak ke belakang. Nafasnya tanpa sadar mulai memburu. Gairahnya sedang dibangkitkan. Ia sangat-sangat sadar. Juga ketika jemari Shinta membuka kancing jeansnya, lalu menurunkan retsluiting dengan cekatan. Dan bibir gadis itu makin turun ke bawah. Dengan ritme yang sama. Jay merasakan sesuatu menyesak di bawah sana. Sigap, ditahannya wajah gadis itu. Lalu si Pemuda mengangsurkan wajahnya, mengulum bibir si Gadis dengan penuh perasaan. Mempermainkan lidahnya di dalam rongga mulut Shinta dengan liar, lalu keluar ke dagu, leher, dan belakang telinga gadis itu. Shinta mengerang tertahan. Ada rasa geli yang mengalirkan listrik ke seluruh syaraf di tubuhnya. Ia menggigit bibir, menahankan desiran dalam vena di sekitar kuduknya, yang meremangkan bulu-bulu halus di sana, berbarengan dengan tarian lidah Jay di bagian belakang lehernya. Disamping telinga gadis itu, Jay berbisik lirih,
"Jaketnya…" Tanpa membuka mata, gadis itu menarik turun ritsluiting jaket training yang dikenakannya, kemudian melepasnya dengan cekatan. Jay menatap dada indah yang tertahan oleh bra berwarna merah jambu dengan hiasan renda di tepinya. Ujung jarinya mengangkat kaitan yang terdapat di bagian depan. Satu sentakan pelan, dan bra merah jambu meluncur ke lantai. Jay menggeserkan hidungnya bergantian pada sepasang buah dada yang tertata dengan apik. Menghembuskan nafasnya yang hangat. Shinta semakin tak tahan. Di dekapnya erat kepala si Pemuda, lalu menekannya kuat-kuat dalam pelukannya. Jay paham artinya. Dikecupnya tepian puting yang berwarna merah gelap, lalu ujungnya yang lebih terang, serta menjilatinya dengan penuh hasrat. Tangan Shinta yang bebas, bergerak menarik jeans yang dikenakan Jay, begitu pula sebaliknya. Lalu underwear. Hanya sekejap, mereka berdua sudah bertelanjang badan. Polos. Keduanya saling tindih kini, di permukaan lantai yang dingin. Deru hujan di luar, seolah sedang terjadi badai petir yang dahsyat. Meski kalah dahsyat dengan badai dalam dada masing-masing mereka.

Langkah terakhir. Jay menatap mata gadis yang terlentang di bawahnya.
"I want to touch," satu bisikan, pernyataan sebuah keinginan. Gadis itu mengangguk yakin. Lalu pejamkan mata. Jay masih sempat melirik tanggalan yang terpasang di dinding ruang tamu. Pemuda itu menggeleng pelan. Bibirnya tersungging senyum tipis. It’s about time. Ia kembali menelusuri tubuh si gadis dengan bibirnya, lalu menarikan tango jari di bagian bawah si gadis. Yang kemudian melonjak-lonjak dan merintih tak keruan. Penuh kenikmatan. Kemudian meninggalkan gadis itu begitu saja, ketika jeritan tertahannya terlontar untuk yang kesekian kali, dan tergeletak lemas. Jay meraih sebatang kretek dan menyulutnya seraya duduk di sudut sofa. Entah sejak kapan, wajahnya terlihat begitu dingin dan bengis. Khas lelaki penakluk. Iblis Jahanam. Ada noda darah di lantai, diusap dengan ibu jari kaki.

CHAPTER FIVE - END

Suatu hari di Asrama Puteri Bintang tamu

Gadis di pinggir tempat tidur yang sedang menggaruk-garuk kepalanya itu mengumpat dalam hati. Seharusnya ia sudah curiga saat melihat City-Z silver yang mangkrak di pelataran parkir kampusnya beberapa hari yang lalu. Sayang waktu itu ia terlalu sibuk dengan urusan praktikumnya. Coba kalau tidak, mungkin ia sudah mendatangi iblis itu dan mencegah segalanya terjadi. Tapi kenyataannya, seperti biasa, Dita selalu terlambat datang. Sekarang, ia terpaksa mendengarkan ratapan dari salah seorang sahabat terbaiknya-yang tidak mengikuti perkuliahan sejak tiga hari lalu. Kamar dimana ia berada sekarang mulai terasa kecil dan panas. Dita melepaskan cardigan-nya, lalu meraih gelas air putih di atas end table. Matanya memandang sedih pada gadis yang kemudian meraih gelas di tangannya. Wajah gadis yang kesehariannya tampak cerah itu sudah terlalu pucat untuk menyimpan sari-sari kehidupan. Mirip sosok mayat hidup. Tubuhnya sepintas terlihat jauh lebih kurus daripada biasanya. Rambutnya awut-awutan. "Sudahlah, De. Hanya masalah cowok," bisiknya, seraya mengusapkan jemari tangannya di rambut sahabatnya. Gadis di atas tempat tidur meletakkan gelas kembali di atas meja, lalu memejamkan mata. Setitik lagi air mata jatuh ke atas bantal.
"Segalanya begitu sempurna, Dit," isak Dewi. Bahunya berguncang.
"Aku tahu. Ia pasti membuatmu bahagia saat itu. Jauh lebih bahagia dari semua yang pernah kaurasakan. Ia membuatmu jatuh bangun, kan?" Dewi menganggukkan matanya, masih terpejam. Dita menarik nafasnya dalam. Jangan pernah ada yang mengatakan bahwa ia tak mengerti akan semua itu. Walaupun Dewi tidak menceritakan seratus persen tentang segalanya, Dita sudah bisa menebak apa yang terjadi. Baginya, sosok iblis itu bukanlah seorang yang asing. Ia sangat mengenalnya. Salah seorang lagi dari sekian banyak sahabat. Satu diantara yang bertatto di kening : BEWARE, HAZARDOUS!

Semula Dita tak mengerti, siapa yang membuat Dewi jadi berantakan, dan bagaimana caranya. Setahu Dita, Dewi memiliki banyak sekali teman pria. Tapi tak seorangpun yang dinilainya mampu membuat gadis itu terluka. Dewi bukanlah tipe gadis yang mudah untuk dipermainkan. Sampai Dewi menyebutkan nama seorang pemuda yang membuatnya tersentak. Ray? Ray yang itu? Ray yang membantai wanita dan gadis kecil tanpa berkedip? Hancur sudah!

Dita menunggu sampai sahabatnya tertidur. Ia meraba kening gadis itu, mendapatinya sedikit hangat. Alis Dita berkerut. Pemuda itu benar-benar keterlaluan. Dita mungkin masih merasa tak mengapa, seandainya pemuda itu menyelesaikan apa yang sudah ia mulai-membuat gadis itu terluka tanpa menyisakan sekeping cinta lagi. Tapi dengan menarik harapan terindah dari seorang wanita di tengah jalan saja, sudah merupakan sebuah siksaan lahir batin. Apalagi dengan membuat si gadis tetap merasa yakin, bahwa pemuda itu tak bersalah. Dalam jangka waktu yang panjang, Dita yakin, Dewi akan tetap menyimpan harapan itu di hatinya. Harapan kosong, tentang kembalinya sang pemuda. Menyedihkan sekali.
"Ia pergi karena ia menyayangiku. Aku bisa melihat kesedihannya," begitu isak Dewi yang sempat didengarnya belasan menit lalu. Dalam hati Dita mencibir. Mana mungkin? Satu-satunya alasan atas kejadian itu yang bisa diterima nalarnya, adalah pemuda brengsek itu sudah membuat si gadis sedemikian rupa, meletakkannya dalam batas yang ia inginkan, agar supaya ia bisa melepaskan diri dengan mudah, dengan rasa cinta yang semakin membara di hati si gadis. Dita meninggalkan kamar Dewi dengan merenung. Antara kekagumannya, rasa benci, dan ingatan akan luka panjang di punggungnya, Dita meringis tanpa ia sadari di dalam mobil. Iblis-iblis ini luar biasa. Datang tanpa diduga, melenakan tanpa terasa, lalu pergi tanpa jejak.

Setahun lalu saat ia mengenal iblis itu. Yang tersenyum menggoda di cofee shop, yang berusaha mati-matian untuk membuatnya takluk, tapi gagal. Ia menyukai pemuda itu, di luar sifat buruknya-karena pemuda itu adalah seorang sahabat yang baik. Ray memang baik, tapi hanya dengan orang yang dianggapnya sahabat. Selain itu, ia akan jahat seperti binatang buas. Dita mengerti, karena pemuda itu suka menceritakan segala sesuatu padanya. Gadis itu berani bertaruh, janji makan siang kali ini, pasti merupakan kedok belaka. Ia sudah bisa membayangkan wajah pemuda itu, dengan cengiran khasnya, menceritakan tentang segala apa yang dialaminya sebulan sejak pertemuan mereka yang terakhir di warung batagor. Saat ia hendak berlalu, sebuah bayangan melintas di samping mobil. Dita melirik ke arah spion. Dengan heran ia memandang dua sosok yang turun dari macan hitam. Adegan selanjutnya mirip sinetron India. Si gadis menghentakkan kaki, menutupi wajahnya, terisak masuk ke dalam Asrama puteri. Sementara sosok pemuda berambut panjang di samping macan hitam hanya berdiri. Lalu memutar tubuh. Gadis di dalam mobil bisa melihat wajahnya dengan jelas. Dita tercekat. Jay? Si manusia beku? Iblis yang lain? Pemuda itu berhenti memandang ke arahnya. Dari spion, Dita melihat pemuda itu tersenyum. Jari telunjuk pemuda itu menempel di pelipisnya, untuk kemudian menunjuk ke depan. Tanpa mengatakan apapun, pemuda itu menaiki macan hitamnya, lalu melaju ke arah yang berlawanan dengan arah mobil Dita menghadap. Dita terpana sejenak. Otaknya bekerja. Gerakan Jay terlintas lagi di benaknya. Apa maksud pemuda itu menunjuk udara kosong? Belum lima menit, Dita sudah melajukan mobilnya. Mengumpat dalam hati. Sembilan puluh sembilan persen ia sudah menebak apa yang telah terjadi. Tapi semoga dugaannya salah. Satu persen saja.

Dita menemukan kedua makhluk itu di cofee shop biasanya-tempat ia pertama kali mengenal Ray setahun lalu, dan Jay sebulan setelahnya. Kedua makhluk itu tampak bahagia. Senyum dan cengiran di wajah mereka, diselingi tawa. Dita melangkah pelan-pelan menghampiri. Alisnya berkerut, jelas gadis itu tampak gusar. Belum terlalu dekat, salah seorang dari kedua pemuda itu sudah melihatnya. "Dit!" Ray berseru seraya melambaikan tangan. Jay menoleh dan tersenyum. Dita tidak membalas sapaan dan senyuman yang dilontarkan kedua orang itu. Langkahnya semakin kaku saat ia mendekat. Gadis itu berhenti di samping meja oval. Matanya memandangi kedua pemuda itu satu-satu, tajam, tak ada yang luput.
"Duduk dulu, duduk dulu," Jay berkata seraya menarik kursi.
"Aku tidak mau duduk," ucap Dita ketus.
"Ayolah," tawa Ray, menepuk meja.
"Tidak," sahut Dita, "tidak sebelum Jay menceritakan tentang akhirnya." Jay dan Ray berpandangan, lalu tertawa berbarengan. Dita melihat Jay menoleh, menatapnya dengan senyum jelek.
"Tidak ada apa-apa. Hanya bilang `putus, yuk?’ Itu saja." Gadis di samping meja menatap wajah pemuda yang baru saja berkata dengan tajam.
"Hanya itu?" tanya gadis itu lagi. Jay mengangguk, mengiyakan. Dalam hati Dita mengeluh, pemuda ini tak kalah jahatnya. Malah terang-terangan. Segampang itukah meninggalkan gadis yang tengah jatuh cinta baginya? Dita tak mengenal Jay sebaik ia mengenal Ray. Tapi ia tahu betul, mereka serupa. Dita berpaling ke arah Ray.
"Lalu, kenapa sahabatku?"
"Mana aku tahu," sahut Ray menunjukkan tampang bodoh. Dita menarik kedua tangannya ke samping, berkecak pinggang menatap dua orang sahabatnya yang benar-benar unblelieveable.
"Kalian benar-benar deh," ucapnya beberapa saat kemudian. Dengan gerakan cepat Dita menurunkan tas punggungnya, lalu mengayunkannya ke lengan kedua pemuda itu. Masing-masing satu. Kedua pemuda itu tak menghindar, malah tertawa terbahak-bahak. Dita lalu mendudukan tubuhnya di kursi yang sudah ditarik. Wajahnya masih kerut merut. Bagaimanapun, ia merasa sebal di hatinya.

"Dit," Ray berbisik, "mau Banana Split?"
"Plus CC Shake!" Jay ikut berbisik.
Dita melebarkan matanya.
"Wah? Mau dong!"

Ketiga sahabat itu lalu bersepakat melupakan apa yang sudah terjadi. Mereka bertiga memang demikian, cepat sebal satu dengan lainnya. Namun cepat juga mencairkan kebekuan dengan canda tawa. Walaupun dalam hati Dita merasa kasihan pada Dewi dan Shinta, sebagai sesama wanita, tapi Dita tahu-yang ada dihadapannya saat ini, adalah dua sahabat terbaiknya, bukan iblis yang mengerikan. Ia tak bisa mengubah hal itu. Ia hanya bisa bertekad, lain kali akan berusaha lebih keras untuk menghalangi kejadian-kejadian serupa terulang kembali.

"Tapi, Dit. Menurutmu, jahat mana aku sama Jay?" mendadak Ray bertanya. Dita menelan potongan pisang sebelum menggeleng, "Entahlah. Bagiku kalian semua sama brengseknya. Nggak ada bedanya selain warna kulit. Itu juga kalau gelap ngga kelihatan." Ray saling pandang dengan Jay, lalu sama-sama menunjuk. Nyaris pula berbarengan saat berseru, "Kamu yang kalah!" Dita menyaksikan mereka berdua dengan bingung.
"Ada apa sih sebetulnya? Kalian taruhan, ya? Brengsek deh!" Jay terkekeh, mengetuk ujung kreteknya di asbak.
"Ini hanya masalah…."
Ray menyahut.
"Bayar hutang!"
Dita bengong.

Epilog :

D-Day, satu setengah jam kemudian.

Warung Senang. Hanya menyediakan minuman panas, gorengan murahan, dan indomie tanpa telor. Semua orang mendengarkan dengan nafas tertahan. Satu setengah jam mereka seolah terbuai. Ebes dan Emes saling pandang. Abang becak, tukang ojek, sopir angkutan, dan tukang ngamen tak berkata-kata. Jay menghembuskan asap dari bibirnya.
"Akhir cerita," lanjut Ray, "tak ada yang menang." Setelah Ray mengatakan demikian, terdengar suara mesin mobil mendekat. Sebuah Starlet kelabu berhenti di dekat warung. Jay mengangkat tubuhnya, meraih jaket di sudut meja warung. Matanya bergerak ke samping. Ray tersenyum.
"Ya," bisiknya lagi, sambil tersenyum, menatap semua orang yang ada di dalam warung, "tak ada yang menang." Menyambar kotak Marlboro-nya, Ray menyusul Jay yang sudah keluar warung. Jendela mobil bergerak turun, wajah tersenyum seorang gadis terlihat. Sesaat kemudian, warung itu terasa sepi. Ebes melirik Emes, berbisik kecewa, "Lhah, kalau tak ada yang menang…"
"Hutangnya…," Emes meneruskan. Orang-orang yang ada di warung saling pandang. Lalu nyaris serentak mereka semua tertawa. Semuanya merasa baru bangun dari sebuah mimpi. Tukang ngamen, yang baru pertama kali singgah di Warung Senang, mengambil sepotong tempe, lalu bertanya, "Siapa sih mereka, Bes?" Ebes, dengan tersenyum, menggeleng-gelengkan kepala. "Bukan siapa-siapa. Hanya dua orang tukang hutang yang suka mendongeng."

Satu lagi malam berlalu di penghujung tahun.

[TAMAT]